Sunday, February 17, 2008

Mari Kita Sukseskan Pilkada(L)

WA Sasmita, karib saya, punya pengalaman yang membuat saya tertegun ketika pertama kali membaca. Judulnya Pilkada(L). Ia menulis dalam milis Komunitas Urang Sunda di Internet (Kusnet). Dalam hati saya, Wa Sas sedang mengungkapkan unek-unek politiknya. Di benak saya pun langsung terbayang, wah rupanya dunia politik itu dianggap dia dunianya para kadal.

Ternyata jauh dari sangkaan buruk saya. Bahkan saya langsung tersenyum setelah tuntas membacanya, dan langsung angkat jempol. Wa Sasmita, yang di Kota Bandung ini dikenal sebagai pemilik rumah baca, ternyata justru mengapresiasi dunia politik, khususnya pemilihan gubernur Jabar yang baru saja memasuki tahap pengundian nomor urut. Dia ingin menyukseskannya.

Ungkapan Pilkada(L) meluncur dari Wa Sasmita ketika ia susah payah mencari orang yang mau jadi panitia Tempat Pemungutan Suara (TPS). Maklum, Wa Sasmita jadi Ketua RT di lingkungannya. Ia terpaksa kokotetengan, karena di kampungnya tak mudah orang mau jadi panitia TPS.

Ceritanya, Wa Sas bertemu kumpulan ibu-ibu dan menyampaikan maksudnya, barangkali si ibu punya kenalan anak muda yang mau jadi panitia. Ana celengkeng teh salah seorang ibu, "Walah Pa na nu kitu bet diurus, nu rek jadi gubernur mah saha bae ge teu karasa bedana," katanya.
Wa Sasmita langsung tertegun, tak menyangka jawaban si ibu. "Ibu ari milihna mah teu langkung ibu, bade milih KADAL nu mana teu langkung ibu, abdi mah milarian teh barudak nu daekeun jadi panitia..." jawab Wa Sasmita.

Kini giliran si ibu anu ngahuleng. "Naha nganggo disebat KADAL?"

"Ya KADAL, karena calonnya laki-laki semua. Kalau ada calon perempuan, ya KDAA, Kepala Daerah Awewe." Si Ibu pun ngagikgik. Atuh saya pun sama, membaca pengalaman Si Uwa langsung ngagakgak.

Walaupun susah mencari panitia TPS, akhirnya dia mendapatkan dua orang anak muda. Itu pun kurang. Akhirnya dia sendiri terjun jadi panitia. Ternyata itu pun belum selesai, karena untuk membangun TPS pun ternyata dia tak punya dana, karena ketua RW sudah bilang belum ada dana. Akhirnya dia kokotetengan deui, siapa tetangga yang rela garasinya dijadikan TPS. Ini pun tidak mudah walau akhirnya mendapatkan juga.

Pengalaman Wa Sasmita, Ketua RT di Kota Bandung, saya yakin dialami juga oleh ketua RT lainnya di tatar Sunda ini yang mau hajatan demokrasi, milih pigupernureun. Kalau para ketua RT yang tak pernah tahu apakah bakal ada dana atau tidak ada, dan kalaupun ada persisnya berapa, memang ironis dengan para kandidat gubernurnya dan tim suksesnya yang dari sekarang sudah terlihat ngawur-ngawur duit.

Tanpa bermaksud suudzon, sekarang lihat saja, walaupun kampanye belum triiiiiit, baliho, spanduk, dan sawer para tim suksesnya, terbilang cukup untuk membangun sebuah tenda TPS.
Pasangan kandidat nomor urut tiga misalnya, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf, kemarin menurunkan balihonya di Kota Bandung. Bayangkan berapa baliho yang cukup besar itu, belum lagi kalau lebih dari satu. Bukankah itu jadi mubazir akhirnya? Belum lagi dari kandidat lainnya. Coba kalau disumbangkan ke RT-RT untuk sekadar membuat tenda, atau sewa kursi, apalagi di tengah para ketua RT kebingungan apakah ada dana untuk membangun TPS atau sama sekali cap hatur nuhun alias suka rela. Padahal kalau dilihat dana Pilgub ajuan KPU, mustahil dana membuat TPS tak tercantum.

Melihat gaya para kandidat menghambur-hamburkan uang, mulai dari deklarasi di hotel-hotel atau gedung mewah, bergaya sinterklas, hingga bergaya aktor telenovela mencucurkan air mata, memang membuat saya kadang-kadang terkesima plus prihatin. Di sisi lain, melihat kegigihan di tengah kesulitan seperti dialami ketua RT, saya juga bangga. Rakyat di bawah ternyata banyak yang punya komitmen untuk menyukseskan Pilkada(L).

Mudah-mudahan siapa pun KADA(L) nanti yang terpilih, tak akan mengkadali rakyatnya.*

Dimuat di Coffee Break, Tribun Jabar, Minggu 17 Februari 2008

Sunday, February 10, 2008

Inul Disanjung dan Dicemburui

UPAYA untuk 'mengubur' Inul terus dilakukan oleh orang-orang yang tidak setuju dengan goyang ngebor Inul. Yang paling ngotot, justru datang dari sesama artis dangdut. Dengan dikomandani Rhoma Irama, artis dangdut seperti Iis Dahlia, Camelia Malik dan yang lainnya, mendesak DPR membuat UU anti pornografi. Tujuannya mencekal Inul.

Para selebriti dangdut yang sudah mengecap nikmatnya dunia gemerlap sebagai artis dangdut, sepertinya sama sekali tak memiliki simpati pada Inul yang datang dari dunia marjinal dan tiba-tiba meroket ke tangga popularias. Tak heran kalau kemudian tercium aroma cemburu. Nuansa persaingan bisnis lebih kental ketimbang soal pornografi.

Sesama artis dangdut boleh saja terus menghujat. Tapi makin dihujat, Inul malah makin meroket. Inul yang berpenampilan lugu malah mengundang simpati dari kaum intelektual. Mustofa Bisri melukis adegan ngebor Inul yang dikelilingi ulama, Rektor UGM Sofyan Effendi membahas fenomena Inul di harian Kompas, penyair Sapardi Djoko Damono sengaja menulis puisi tentang Inul, para aktivis LSM perempuan rame-rame membela Inul. Dan yang paling mengejutkan, doktor fisika dari Universitas Indonesia, di Kompas secara khusus membahas goyang ngebor Inul relevansinya dengan teori chaos. Doktor UI itu kemudian menyimpulkan, goyang ngebor Inul sama sekali tidak erotis.

Dalam budaya massa atau pop, sudah lumrah kalau sesuatu cepat terkenal atau ngetren, tapi biasanya cepat juga tenggelam. Tak ubahnya dengan mode. Ia tersisih begitu muncul mode paling gres.

Begitu pula Inul. Ia dikemas dari kampung, bergoyang ngebor dari panggung ke panggung. Kreasi ngebornya itu lalu direkam pembajak dan dijual. Ulah pembajak itu rupanya mengubah nasib Inul. Pasar rupanya terkesima dengan goyang ngebor Inul. Meroketlah Inul hingga televisi dan media cetak pun saling berburu. Bahkan majalah Time menulis tentang Inul, yang tak pernah dialami oleh penyanyi dangdut lainnya. Dalam sejarah penyanyi, hanya Iwan Fals dan Inul yang bisa menembus majalah Time.

Sebetulnya, dalam bayangan saya, fenomenal Inul tak lebih dari budaya pop juga. Ia akan segera tenggelam begitu muncul fenomena baru. Tapi cerita Inul jadi panjang, setelah berkali-kali diprotes, mulai dari kalangan ulama, sesama artis sampai ibu-ibu rumah tangga.

Hujatan terhadap Inul ini melengkapi kisah hidup Inul yang sejak kemunculannya, dianiaya oleh pembajak. Tapi sebagai gadis kampung yang lugu, Inul menghadapi para penghujat dengan tetap lugu dan tegar. Ia memang tampak trauma tak mau lagi tampil di televisi, bahkan sempat meminta nasihat Gus Dur. Lalu mau merintis ke sinetron.

Sebagai laki-laki, saya menonton goyang ngebor Inul cukup sering, tapi sama sekali tak merasa goyang ngebor itu merangsang berahi. Jusrtu kesan yang tertangkap, kegembiraan seorang gadis lugu dari kampung dengan goyang khasnya yang merakyat.

Makanya aneh kalau goyang Inul terus diributkan karena bau pornografi. Apanya yang porno? Sebetulnya, soal daya rangsang itu bukan datang dari luar, melainkan dari pikiran sendiri. Kalau goyang ngebor Inul itu terus dikategorikan porno, mungkin pikiran orang itu sendiri yang sedang disesaki oleh nafsu syahwat.

Atau kalau mau jujur, protes dari kalangan artis dangdut itu ya soal persaingan bisnis. Siapa yang tidak iri, gadis kampung tiba-tiba melejit ke puncak popularitas, hingga melanglang mancanegara.*

Coffee Break, Tribun Jabar

Bush dan Columbus

AMERIKA SERIKAT dan sekutunya menggempur Irak hingga negeri yang dikenal dengan Kisah Seribu Satu Malam itu luluh lantak. Sayup-sayup saya mendengar tangis Edward said dari ruang kerjanya. Intelektual kelahiran Palestina yang kemudian mengajar ilmu politik dan kebudayaan di Amerika Serikat, itu tak bisa menahan kesedihannya. Analisisnya tentang kebudayaan yang bisa berubah jadi monster kekuasaan dan jadi alat legitimasi politik untuk mendikte sesama manusia, jadi kenyataan.

Di sisi lain, saya juga membayangkan Samuel Hantington terkekeh-kekeh di ruang kuliah di depan anak didiknya. Guru besar ilmu politik, juga di salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat, itu sedang berbangga diri. Gempuran AS dan sekutunya terhadap Irak ia klaim sebagai kebenaran atas analisisnya, perang antara kebudayaan Barat dan kebudayaan Islam. Ia seakan menutup mata bahwa rakyat Irak yang jadi korban itu termasuk umat Kristiani. Kejamnya Amerika dan sekutunya bisa kita saksikan saat umat Kristen sedang kebaktian di Gereja di Mosul tiba-tiba dibom.

Edward Said, yang sangat besar perhatiaanya terhadap sastra dunia, mampu memprediksi apa yang bakal terjadi di masa depan melalui telaahnya pada karya-karya sastra, terutama novel-novel klasik dari pengarang-pengarang Inggris dan Amerika Serikat.

Dalam bukunya Kebudayaan dan Kekuasaan, ia tidak menampik bahwa kebudayaan, dan sastra, memang membawa pencerahan kepada umat manusia. Tapi ia pun mengingatkan, sastra-satra klasik dari tanah Inggris dan Amerika Serikat, sudah membuat jarak antara yang beradab dan belum beradab. Si bodoh dan si pintar. Tak heran dalam novel-novel klasik Inggris banyak ditemukan tokoh-tokoh simpatik yang akan membebaskan bangsa timur dari keterbelakangan. Karya-karya sastra ini dipertegas lagi dengan kisah-kisah petualangan seperi perjalanan Columbus yang dielu-elukan sebagai penemu benua Amerika, lalu membuat peradaban di Amerika Serikat. Bangsa Indian sebagai penduduk asli dianggap tidak ada.

Bingkai kebudayaan Columbus (Barat), seperti diperingatkan Edward Said, sangat berbahaya. Alat ukur kebebasan, kemerdekaan, keadilan, demokrasi, dan segala sesuatu datang dari bangsa barat (Amerika Serikat dan sekutunya). Tak heran kalau Bush koar-koar ke masyarakat dunia, ia sedang memimpin pembebasan rakyat Irak dari kekejaman Saddam Husein, dengan menutup mata bahwa tentaranya telah membuat sengsara wanita, anak-anak dan kaum jompo. Bush pun tak malu-malu sedang merancang pembangunan infrastruktur di Irak pasca perang, seakan-akan negara itu sudah ada di kepalan tangannya. Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat dan Inggris pun berbondong-bondong mengajukan proposal untuk mendapat jatah proyek di Irak.

Melihat kenyataan ini, saya membayangkan Edward Said gemetaran menahan amarah. Melalui karyanya ia sudah mengingatkan masyarakat dunia, terutama kaum intelektual, agar jangan berdiam diri jadi penonton melihat kesewenang-sewenangan kebudayaan. Monopoli kebudayaan, mau atas nama kebenaran, demokrasi, kebebasan, tetap menyimpan 'bom' yang menyengsarakan umat manusia. Janganlah percaya bahwa invasi AS dan sekutunya ke Irak atas nama pembebasan, yang terjadi justru atas nama kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Edward Said, seorang Kristiani yang dikenal pembela kemanusiaan, tak tega melihat penderitaan warga Palestina selalu dibohongi oleh diplomasi politik gaya AS. Kini ia harus menerima kenyataan lagi Irak diinvasi secara sadis. Tapi, keberaniannya yang lantang itu tak ada yang mendengar. Ia hanya sendirian. Ia malah harus berhadapan dengan intelektual bengkok seperti Samuel Hantington, yang gemar mempertentangkan Islam dan Barat.*

Coffee Break, Tribun Jabar

Sunday, January 6, 2008

Pareumeun Obor

PEPATAH orang tua selalu bijak. "Kade jang, dulur teh longokan, ulah nepi ka pareumeun obor."
Peribahasa Pareumeun Obor sudah jadi ungkapan yang memperkaya bahasa dan sastra Sunda. Dalam kamus terbitan LBSS, Satjadibrata, maupun kamus besar Basa Sunda karangan Danadibrata, maknanya sama: yakni leungiteun pancakaki, nepi ka teu wawuh ka dulur. Begitu pula makna yang termuat dalam Babasan dan Paribasa, Kabeungharan Basa Sunda susunan Ajip Rosidi.
Orang bisa pareumeun obor, karena dia atah anjang jeung dulur, alias tak pernah menengok saudaranya sendiri, sehingga kelak ia tak tahu silsilah keluarganya. Misalnya, tak jarang saya bertemu dengan seseorang, setelah diurut-urut keluarga karuhunnya, dari orang tuanya, kakek, hingga uyut, ternyata orang itu sebetulnya masih famili. Saya dan orang itu sama-sama pareumeun obor, sehingga sama sekali saling tak mengenal.
Ayah saya selalu bilang dalam konteks yang lebih luas. "Jeung dulur teh ulah nepi ka pareumeun obor, ke jaga bisi diparengkeun jadi pamingpin, kudu nyaho ka rayatna, bisi aya nu teu manggih dahar. Kudu siga khalifah Umar."
Teman-teman saya, Wa Sasmita, Dian Hendrayana, Iip Zulkifli Yahya, termasuk orang-orang yang tak mau pareumeun obor dengan budayanya sendiri. Mereka kini sedang sibuk membuat komik Wastukancana, tokoh sejarah Sunda.
Mungkin saja ada yang mengkritik, wah itu kan kebiasaan orang Sunda yang suka ngumbar nostalgia. Kritik itu mudah saja ditangkis. Nilai-nilai yang baik tak pernah usang, walau diproduksi dari masa silam. Masyarakat Sunda tahu nilai-nilai yang ditanamkan Wastukancana sangat baik diresapi oleh manusia zaman sekarang, apalagi oleh para pemimpin. Kalau buruk, buat apa namanya diabadikan jadi nama jalan di Kota Bandung .
Agar tidak pareumeun obor pada nilai-nilai Wastukancana , Wa Sasmita saparakanca berusaha membuat cerita komiknya. Tentu saja tak mudah memvisualkan tokoh Wastukancana, pasti ada pro kontra, karena tak ada dokumentasi foto seperti apa figur Wastukancana. Tetapi keberanian membuat cerita komik Wastukancana merupakan terobosan yang patut diacungi jempol. Sebagai perbandingan, kreatifitas perupa Onong Nugraha layak ditiru. Ia seorang maestro seni rupa yang berani memvisualkan tokoh-tokoh Sunda dalam sastra dan sejarah Sunda, seperti Prabu Siliwangi, Wastukancana, Tarusbawa dan lainnya.
Upaya agar kita tidak pareumeun obor pada saudara sendiri, pada budaya sendiri, penting dilakukan. Ingat, anak muda sekarang lebih gandrung pada budaya harajuku daripada budayanya sendiri. Masih mending kalau mereka tahu bahwa harajuku itu budaya Jepang, bagaimana kalau sampai ada yang menganggap itu budaya miliknya sendiri. Benar-benar pareumeun obor.
Para pemimpin di pemerintahan juga sedang berupaya agar kita tidak pareumeun obor pada seni budaya dan senimannya. Walikota Bandung, Gubernur Jabar, dan pemerintah pusat sudah mentradisikan penganugrahan seni budaya.
Kita layak mengapresiasinya, meskipun terkadang keseleo, orang yang hanya getol pakai iket di kepala dan baju kampret diberi penghargaan, padahal ia cuma gemar bersimbolik saja, sementara karya nyatanya nihil. Sebaliknya, seniman yang reputasinya mendunia dan gigih dalam regenerasi, seperti Mimi Rasinah, Wangi Indriya, Eutik Muhtar, Onong Nugraha, malah
terlupakan.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Ya, karena pareumeun obor.*

Sunday, December 23, 2007

Membajak Kebenaran Hakiki

ANAK berusia kira-kira tak lebih dari tujuh tahun itu memandang ke arah polisi yang lengkap bersenjata laras panjang, sementara badannya merapat ke ayahnya yang sedang menggemakan takbir Idul Adha.

Melalui tayangan televisi, mata si anak yang memandang polisi dan tangannya yang memeluk ayahnya itu, tebersit rasa heran campur rasa takut. Tentu saja anak itu belum paham apa yang sedang terjadi, juga belum bisa menyelami ketakutan yang tengah menghantui ayahnya dan jamaah Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat.

Mungkin sekembali di rumah ayahnya menjelaskan, polisi itu bukan untuk menakut-nakuti anak yang cengeng, juga bukan mau melarang orang melakukan salat Idul Adha. Para polisi itu justru melindungi jamaah Ahmadiyah dari amuk massa, setelah dua hari lalu, Selasa (18/12), mesjid mereka dirusak.

Peristiwa kekerasan yang dialami warga Ahmadiyah di Kuningan, kemudian esoknya disusul di Tasikmalaya, merupakan kekerasan yang berulang-ulang yang dialami warga Ahmadiyah setelah terjadi di Bogor. Di Tasikmalaya, Jumat (21/12), warga Ahmadiyah terpaksa melakukan salat Jumat di rumah. Jelas sudah, ketenangan hidup mereka sudah terampas.

Apa gerangan yang membuat toleransi di kalangan umat beragama kini seperti meranggas, malah berubah wujud jadi kebencian? Padahal, seperti yang saya alami, sejak kecil guru ngaji sudah mengajarkan, janganlah kamu membunuh makhluk hidup, karena makhluk hidup diciptakan Allah ada maksudnya. Bahkan binatang buas pun, sepanjang tidak mengancam jiwa kita, kita harus melindunginya.

Cobalah simak biografi Nabi Muhammad saw yang ditulis seorang muslim, Haekal atau seorang nasrani, Karen Amstrong. Muhammad mengajarkan ajaran Islam tidak dengan pedang terhunus, tapi dengan dakwah disertai sikap hidup yang sederhana dan penuh toleransi. Justru dengan sikap santun dan kesederhanaan itulah yang membuat dakwah Nabi mampu menusuk kalbu umat manusia untuk mengikuti jejak dan ajaran Islam. Muhammad mampu membawa umatnya untuk hidup berdampingan dengan umat yang berbeda keyakinan, dan berlangsung damai. Dari cara hidup yang diajarkan Muhammad lah peradaban Islam bersinar.

Dalam genggaman Dinasti Umayyah, Andalusia (Spanyol sekarang) mengecap kejayaan Islam karena toleransi dijadikan pilar kehidupan bermasyarakat. Lahirlah para ilmuwan terkemuka seperti Ibnu Rusyd. Sebaliknya, penguasa penggantinya, Dinasti Al-Muwabithun dan Dinasti Al- Muwahhiddun memusuhi dan menyiksa orang yang berbeda keyakinan. Bahkan di antara sesama umat pun saling membenci. Kebencian akhirnya melahirkan kebencian. Tenggelamlah kejayaan Andalusia.

Sebagai Muslim dan bukan pengikut Ahmadiyah, la kum dinikum waliyaddin, saya juga mengenal: bagiku agamaku, bagimu agamamu. Tapi itu bukan berarti umat Muslim harus terpenjara oleh keyakinan sendiri demi membinasakan kaum lain yang berbeda keyakinan.

Umat Muslim sejak kecil sudah diajarkan untuk merendah di depan Allah, itulah salat lima waktu, karena hanya Allah yang maha benar. Kalau ada sekelompok merasa yakin sebagai paling benar lalu menghancurkan orang lain, dia telah membajak kebenaran hakiki, kebenaran paling tinggi yang hanya dimiliki Allah.

Seorang profesor matematika yang atheis di Amerika Serikat, Jeffry Lang, memilih jadi pemeluk Islam sejati setelah melihat cara hidup keluarga muslim yang sarat toleransi dan penuh kedamaian. Di kemudian hari, ia melihat kenyataan bahwa di kalangan Muslim pun tak sama dalam memahami Islam, bahkan ia menemukan pemeluk Islam yang sarat tahayul. Tapi itu tak membuatnya goyah dari Islam. Ia tetap kokoh sebagai muslim sejati yang bisa menghargai perbedaan. Di situlah indahnya Islam. Bukan saja ia mengagumi ajaran Islam, tapi juga mengamalkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku. *












ANAK berusia kira-kira tak lebih dari tujuh tahun itu memandang ke arah polisi yang lengkap bersenjata laras panjang, sementara badannya merapat ke ayahnya yang sedang menggemakan takbir Idul Adha.

Melalui tayangan televisi, mata si anak yang memandang polisi dan tangannya yang memeluk ayahnya itu, tebersit rasa heran campur rasa takut. Tentu saja anak itu belum paham apa yang sedang terjadi, juga belum bisa menyelami ketakutan yang tengah menghantui ayahnya dan jamaah Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat.

Mungkin sekembali di rumah ayahnya menjelaskan, polisi itu bukan untuk menakut-nakuti anak yang cengeng, juga bukan mau melarang orang melakukan salat Idul Adha. Para polisi itu justru melindungi jamaah Ahmadiyah dari amuk massa, setelah dua hari lalu, Selasa (18/12), mesjid mereka dirusak.

Peristiwa kekerasan yang dialami warga Ahmadiyah di Kuningan, kemudian esoknya disusul di Tasikmalaya, merupakan kekerasan yang berulang-ulang yang dialami warga Ahmadiyah setelah terjadi di Bogor. Di Tasikmalaya, Jumat (21/12), warga Ahmadiyah terpaksa melakukan salat Jumat di rumah. Jelas sudah, ketenangan hidup mereka sudah terampas.

Apa gerangan yang membuat toleransi di kalangan umat beragama kini seperti meranggas, malah berubah wujud jadi kebencian? Padahal, seperti yang saya alami, sejak kecil guru ngaji sudah mengajarkan, janganlah kamu membunuh makhluk hidup, karena makhluk hidup diciptakan Allah ada maksudnya. Bahkan binatang buas pun, sepanjang tidak mengancam jiwa kita, kita harus melindunginya.

Cobalah simak biografi Nabi Muhammad saw yang ditulis seorang muslim, Haekal atau seorang nasrani, Karen Amstrong. Muhammad mengajarkan ajaran Islam tidak dengan pedang terhunus, tapi dengan dakwah disertai sikap hidup yang sederhana dan penuh toleransi. Justru dengan sikap santun dan kesederhanaan itulah yang membuat dakwah Nabi mampu menusuk kalbu umat manusia untuk mengikuti jejak dan ajaran Islam. Muhammad mampu membawa umatnya untuk hidup berdampingan dengan umat yang berbeda keyakinan, dan berlangsung damai. Dari cara hidup yang diajarkan Muhammad lah peradaban Islam bersinar.

Dalam genggaman Dinasti Umayyah, Andalusia (Spanyol sekarang) mengecap kejayaan Islam karena toleransi dijadikan pilar kehidupan bermasyarakat. Lahirlah para ilmuwan terkemuka seperti Ibnu Rusyd. Sebaliknya, penguasa penggantinya, Dinasti Al-Muwabithun dan Dinasti Al- Muwahhiddun memusuhi dan menyiksa orang yang berbeda keyakinan. Bahkan di antara sesama umat pun saling membenci. Kebencian akhirnya melahirkan kebencian. Tenggelamlah kejayaan Andalusia.

Sebagai Muslim dan bukan pengikut Ahmadiyah, la kum dinikum waliyaddin, saya juga mengenal: bagiku agamaku, bagimu agamamu. Tapi itu bukan berarti umat Muslim harus terpenjara oleh keyakinan sendiri demi membinasakan kaum lain yang berbeda keyakinan.

Umat Muslim sejak kecil sudah diajarkan untuk merendah di depan Allah, itulah salat lima waktu, karena hanya Allah yang maha benar. Kalau ada sekelompok merasa yakin sebagai paling benar lalu menghancurkan orang lain, dia telah membajak kebenaran hakiki, kebenaran paling tinggi yang hanya dimiliki Allah.

Seorang profesor matematika yang atheis di Amerika Serikat, Jeffry Lang, memilih jadi pemeluk Islam sejati setelah melihat cara hidup keluarga muslim yang sarat toleransi dan penuh kedamaian. Di kemudian hari, ia melihat kenyataan bahwa di kalangan Muslim pun tak sama dalam memahami Islam, bahkan ia menemukan pemeluk Islam yang sarat tahayul. Tapi itu tak membuatnya goyah dari Islam. Ia tetap kokoh sebagai muslim sejati yang bisa menghargai perbedaan. Di situlah indahnya Islam. Bukan saja ia mengagumi ajaran Islam, tapi juga mengamalkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku. *

Tuesday, November 27, 2007

Dede Hanya Ingin Sembuh, Tidak Lebih

"SAYA ingin sembuh." Itulah kalimat yang terlontar dari Dede, yang oleh pers asing dijuluki "Half Man Half Tree", saat ditanya Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang menjenguknya ke RSHS, Minggu (25/11). Menkes yang datang atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu bertanya apa yang Dede ingin sampaikan kepada presiden.

Dede tidak minta macam-macam. Kalimat "Saya Hanya Ingin Sembuh", walaupun singkat dan sederhana, maknanya terasa sangat dalam. Kalau sudah sembuh, ia bisa bekerja seperti semula, saat tubuhnya belum dirambati penyakit semacam kutil.

Jawaban sederhana itu menggambarkan penderitaan Dede selama ini, dan juga orang- orang yang nasibnya serupa dengan Dede namun belum jadi perhatian publik.

Kisah Dede ini tak pelak jadi kisah kemanusiaan yang jadi perhatian publik di penghujung tahun ini. Pernah ada film produksi Hollywood yang kisahnya persis dengan hidup Dede, judulnya "The Elephant Man". Film yang dibintangi aktor kawakan Anthony Hopkins ini pun berangkat dari kisah nyata. Mirip, tapi tentu saja tidak sama.

Menurut Hanny Purwanto, Dede bertahun-tahun mengemis di Alun-alun Bandung dan depan Pusdai. Tak satu pun yang peduli, sampai akhirnya Hanny menolongnya dengan merekrutnya ke arena pertunjukan. Dede, yang sudah kehilangan nafkah, bahkan hasil mengemis pun tak cukup, tentu saja senang. Hidupnya yang sudah diambang putus asa, terutama setelah istri minta cerai, kembali bangkit. Sampai akhirnya datanglah media asing menayangkan kisah hidupnya.

Sedangkan dalam film "Manusia Gajah", pemilik sirkus, Bytes (Freddi Jones) sengaja mengekploitasi John Merrick (John Hurt), si manusia gajah. Hasil dari pertunjukan tak sesenpun diberikan ke John Merrick. Bahkan kalau John Merick kurang atraktif dalam aksinya sehingga penonton kecewa, si pemilik sirkus menyiksanya. Sampai akhirnya datang seorang dokter bedah, Dr FrederickTreves (Anthony Hopkins) yang ingin menolongnya dan membawa ke rumahsakit. Si pemilik sirkus beusaha mati-matian menghalangi dokter bedah, karena si manusia gajah sudah jadi tambang emas.

Saya membandingkannya dengan film "The Elephant Man" karena Menkes mencurigai ada eksploitasi menimpa Dede. Padahal kalau melihat perjalanan nasib Dede seperti yang dikisahkan Hanny, jauh sekali, tak seburuk yang dialami John Merrick.

Hanny Purwanto, si penolong, justru senang ada pihak yang ingin menyembuhkan Dede dari belenggu penyakitnya. Benar ketika ia bertanya, kemana saja selama ini pemerintah? Kok ributnya baru sekarang setelah media asing mem-blow-up-nya? Kritik ini justru berlaku juga ketika orang-orang senasib seperti Dede masih dibiarkan telantar. Kalau Menkes bilang orang miskin dilindungi negara, seperti diamanatkan UUD 45, kenapa sekarang banyak rakyat miskin dibiarkan telantar, terutama yang berpenyakit.

Tapi, tentu saja, niat baik Menteri Kesehatan perlu diapresiasi juga, baik dalam hal menyembuhkan Dede maupun melindunginya secara hukum untuk menghindari kemungkinan eksploitasi. Dalam hal ini, saya melihat, baik Hanny maupun Menteri Kesehatan sudah berusaha menolong dengan caranya masing-masing. Perkara apakah Dede dieksploitasi atau tidak, kembali kepada diri masing-masing yang selama ini bersinggungan dengan Dede. Sebab niat baik selalu ada efek buruknya, kalau kita lalai. Contoh, dokter Treves pun yang sudah berhasil membawa John Merrick, akhirnya gelisah ketika rumah sakit selalu mengenalkan John Merrick ke forum orang-orang terhormat guna pengumpulan dana untuk amal.

Intinya, seperti dikatakan Dede, "Saya hanya ingin sembuh." Ke sanalah energi kita fokuskan. Semua pihak harus mengawal proses penyembuhan Dede hingga berhasil. Kalau ini sukses, dunia ilmu kedokteran pun ikut terangkat. Semoga lekas sembuh, Dede. *

Tribun Jabar, edisi Selasa 27 November 2007

Sunday, November 11, 2007

Berlomba Masuk ke "Dunia Lain"

AKHIR-AKHIR ini kita dihadapkan pada persoalan pelik. Tampak telanjang mata, tapi tidak mudah menjelaskannya. Yang pasti, ini persoalan serius yang menuntut semua pihak untuk bersama-sama mencari akar persoalannya, mengurai, dan menanganinya secara arif.

Merebaknya aksi geng motor, hingga ke taraf melakukan keganasan, sudah cukup merisaukan. Lalu maraknya anak-anak kita yang tiba-tiba terpesona oleh sebuah komunitas yang mengajarkan aliran-aliran yang ganjil. Kalau sampai anak kita itu rela meninggalkan orang tua yang amat mencintainya, orang tua mana yang tidak risau? Lenyap tanpa diketahui keberadaannya.

Tak kalah rumitnya, munculnya klaim-klaim gerakan keagamaan. Gerakan tersebut kerap muncul dengan ritual syahadat di tempat terbuka serta dilakukan massal. Over acting inilah yang kemudian memicu kontroversi.

Langkah hukum yang dilakukan polisi terhadap aksi geng motor, memang dibutuhkan sebagai langkah kuratif. Begitu pula langkah kejaksaan dan kalangan ulama dari lembaga formal seperti MUI. Akan tetapi, cukupkah langkah kuratif ini menjelaskan apa yang sedang bergejolak di tengah masyarakat? Lebih jauhnya lagi, mampukah aparat kepolisian, kejaksaan, MUI menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut?

Kita harus jujur untuk mengakui, lembaga- lembaga hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, maupun lembaga seperti ulama gagal menjelaskan persoalan-persoalan yang sedang mengancam sendi kehidupan bermasyarakat, apalagi menyelesaikannya.

Memang tidak adil untuk mengambinghitamkan lembaga hukum dan lembaga keulamaan seperti MUI. Tapi ada baiknya kita semua introspeksi ke dalam. Semua, mulai dari pemimpin formal, informal, mulai dari ulama sampai umaro, mulai dari pendidik sampai penegak hukum, dan semua elemen yang menopang kehidupan bermasyarakat, hendaknya merenungkan, benih apa yang telah kita tebar sehingga tumbuh subur "dunia-dunia lain" yang aneh, seperti geng motor, komunitas Al-quran Suci, Al-Qiyadah, dan "dunia-dunia lainnya" yang tidak dipahami akal sehat, bahkan mengancam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Apa yang diungkapkan guru besar ilmu sejarah dari Unpad, Prof Dr Nina Herlina Lubis di harian ini kemarin, layak untuk kita jadikan bahan renungan. Gerakan-gerakan keagamaan ternyata bukan barang baru di tanah air. Ia muncul tentu ada latar belakangnya. Krisis multidimensi yang mendera sejak 1998 hingga sekarang, langsung tidak langsung, telah menyuburkan tumbuhnya "dunia-dunia lain" itu.

Mari kita berkaca, sekarang ulama mana yang harus kita jadikan panutan? Banyak ulama telah kehilangan wibawa karena terjerumus ke arena politik. Bagaimana fatwa mereka akan didengar, kalau mereka lebih sering terjebak pada polemik dan politik praktis.

Sejatinya ulama jangan hanya pandai bersilat lidah, itu sesat, ini haram. Tapi Jadilah teladan berdasarkan perilakulah yang terpuji, sehingga wibawanya dihormati umat.
Polisi, kejaksaan, kehakiman yang seharusnya jadi penegak hukum, malah mempertontonkan bagaimana jual beli hukum. Kasus anggota Komisi Yudisial Irawady Joenoes yang tertangkap basah membawa sekopor uang upeti, bukankah itu tamparan keras bagi dunia hukum?

Di lingkaran pendidikan, bagaimana para siswa mau menghormati guru kalau para pendidiknya pun lebih suka jual beli buku dan menaikkan SPP, padahal pemerintah sudah menyediakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Begitu pula para orang tua, bagi yang berada lebih sibuk mengejar karier, bagi yang serba kekurangan lebih banyak menghabiskan waktu mencari nafkah. Institusi keluarga kehilangan keintimannya, sehingga anak-anak kita kehilangan figur dan kenyamanan.

Ini tentu saja bukan pembenaran untuk aksi-aksi kekerasan atau gerakan keagamaan yang ganjil. Namun dalam tekanan sosial seperti inilah, "dunia lain" bisa tumbuh subur dan mampu menyihir anak-anak muda untuk berlomba memasukinya. Relakah kita sejenak sekadar untuk merenungkannya? Sejenak saja. *

Tribun Jabar, Jumat, 9 November 2007



Friday, October 5, 2007

Tokoh Sunda Berintegritas, Masih Adakah

LAHIRNYA negara Indonesia sebagai negara merdeka tak bisa lepas dari kemunculan elite- elite Indonesia yang datang dari berbagai daerah. Untuk sekedar menyebut nama, kita mengenal orang Jawa yang menjadi elite nasional seperti Dr Soetomo, Dr Wahidin sampai Soekarno. Dari Sumatera kita mengenal Hatta, Syahrir, Natsir, Adam Malik. Dari tanah Pasundan kita mengenal Otto Iskandardinata, Mr Iwa Kusumasumantri, Ir Djuanda. Akan bertambah panjang jika dari daerah lain disebutkan satu persatu.
Mewariskan Pemikiran
Dari sejak era pergerakan nasional, revolusi, orde lama, orde baru hingga era sekarang ini yang disebut-sebut sebagai era reformasi, kemunculan elite-elite atau tokoh-tokoh masyarakat tak pernah putus. Mereka muncul sesuai perannya masing-masing.
Kehidupan sosial memang tak pernah lepas dari kehadiran dan peran elite suatu masyarakatnya. Begitu pula Indonesia yang dibangun di atas keanekaragaman suku bangsa dan budaya, selalu bermunculan elite-elite nasional. Maka tak heran bagi sebagian orang, panggung nasional menjadi ajang persaingan elite untuk saling mengukuhkan eksistensinya masing-masing. Persaingan ini sah sepanjang mempunyai visi untuk membangun martabat dan harkat ke- indonesiaan di mata internasional. Kemunculan elite nasional selalu disyaratkan dengan integritasnya, yakni komitmen dan visi yang kokoh bagi kepentingan masyarakat banyak ke arah kehidupan yang lebih baik. Komitmen dan visi ini tak sekadar dilisankan atau dikampanyekan, tapi dibuktikan melalui perjuangan, pemikiran, dan karya-karyanya itu bagaikan tesis yang bisa dilacak serta direspon oleh generasi berikutnya.
Sayangnya kemunculan elite-elite nasional itu tak selalu dalam nuansa dan visi yang sama. Pada era pergerakan nasional terjandi konflik pemikiran dan ideologi, dan ujung-ujungnya membuahkan karya. Masing-masing elite mempunyai sikap dan intelektualitas yang jelas dalam mempertahankan ideologinya, mulai dari nasionalisme, komunis dan agama. Banyak konflik tapi sipatnya intelektual.
Lahirnya tokoh KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah tak lepas dari kegigihannya berpikir dan berjuang di organisasi, karya adalah organisasi Muhammadiyah yang kokoh sampai sekarang. Kita juga mengenal Semaun yang pertama kali jadi Ketua Umum Partai Komunis yang kemudian dilarang dan selalu jadi bahan perdebatan sampai sekarang. Nama Soekarno kita kenal berkat nasioanalismenya yang membakar rakyat Indonesia untuk bersatu, sehingga ia berhasil jadi presiden RI yang pertama. Soekarno kemudian terlibat konflik pemikiran dengan Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Djuanda, Otto Iskandardinata, Iwa Kusumasumantri. Walaupun mereka kemudian berpisah, gaung pemikirannya tetap bergema sampai sekarang.
Mereka juga umumnya dimahkotai dengan karya-karya tulisan yang cemerlang sebagai buah pemikirannya. Bahkan nama mereka ditulis dalam bentuk biografi intelektual baik oleh penulis mancanegara maupun penulis dari tanah air. Pada era ini, kemunculan para elite yang datang dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatera, Sunda dan daerah lain disertai dengan menunjukkan integritasnya.
Mewariskan Kekerasan
Pada era orde baru, kemuculan tokoh nuansanya berbeda. Munculnya Jendral Soeharto, Nasution, Soemitro, Ali Murtopo, Beny Moerdani, Try Soetrisno sampai Wiranto sebagai elite nasional disertai aroma kekerasan. Soeharto dengan Gerakan 30 Septembernya, Ali Moertopo dan Soemitro dengan Malarinya, Benny Moerdani dengan Petrusnya, Try Soetrisno dengan Tanjungprioknya, Wiranto dengan Semanggi dan Trisaktinya. Pada era orde baru ini, kemunculan elite mulai diragukan integritasnya. Mereka hampa pemikiran cemerlang, malah menjadi elite yang sarat kontroversi dan mewariskan persoalan yang mencekik generasi hingga sekarang ini.
Celakanya, sejak orde baru sampai sekarang memang seperti musim paceklik elite yang memiliki integritas. Sejak Habibie sampai Susilo Bambang Yudhoyono, kita belum melihat lagi elite nasional sekaliber Soekarno, Hatta, Syahrir, Djuanda. Para elite nasional sekarang ini sibuk bertengkar bukan karena konflik pemikiran, melainkan konflik kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka seakan menerima warisan dari elite era orde baru.
Suasana pacelik elite di panggung nasional ini merembes juga ke daerah, terutama tatar Sunda. Setelah kelahiran Dewi Sartika, Iwa Kusuma Sumantri, Otto Iskandardinata, Ir Djuanda, kini sulit menemukan elite Sunda yang memiliki integritas. Mungkin hanya bisa menyebut satu atau dua orang, misalnya Teten Masduki sebagai elite Sunda yang memiliki integritas. Ia punya komitmen kuat untuk memberantas korupsi di tanah air. Nama lain yang patut disebut mungkin Nana Sutresna, diplomat ulung yang berasal dari Jawa Barat. Burhanudin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia juga patut dicatat. Prestasi Burhanuddin patut dicatat karena di era dia sebagai Gubernur BI, Indonesia bisa melunasi utang ke negara pendonor.
Mimpi Berkuasa
Ironisnya, sebagian besar elite Sunda selalu mengasumsikan bahwa kemunculan elite Sunda itu harus selalu di level kepemimpinan nasional, dalam pengertian memegang jabatan struktural di level pemerintahan, karena itu mereka berlomba-lomba masuk partai atau ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah. Mereka juga terbuai oleh mimpi adanya orang Sunda jadi pemimpin nasional.
Kasarnya, banyak elite Sunda bermimpi berkuasa di panggung nasional tanpa membangun integritasnya. Ironisnya, tokoh yang akan tampil dalam perebutan pemilihan Gubernur 2008 saja, sepertinya masyarakat Jawa Barat akan bingung harus memilih siapa. Karena dari stok yang ada, belum ada tokoh yang integritasnya kokoh. Paling tidak indikatornya dilihat dari komitmennya dalam memberantas korupsi dan memajukan sumber daya manusia Jabar lewat pendidikan murah..
Memang bukan berarti sama sekali tak ada orang Sunda yang memiliki integritas. Hanya saja tokoh Sunda yang memiliki kadar integritas kuat tidak berada di berada di level struktur pemerintahan atau partai. Contohnya Teten Masduki. Bagi saya dia menjadi tokoh Sunda yang membanggakan masyarakat Sunda.
Sebaliknya, saya tidak bangga melihat orang Sunda menjadi pejabat di pemerintaha baik pusat maupun daerah, atau di parlemen. Alih-alih mampu mengukir prestasi seperti Teten Masduki, mereka malah sering terlibat polemik yang menghabiskan energi, bahkan tak jarang terlibat praktek korupsi.
Menjelang pemilihan gubernur Jawa Barat tahun depan, masyarakat Sunda terutama generasi mudanya, patut merenungkan jejak pemikiran tokoh Sunda masa lalu seperti Djuanda, Iwa Kusumasumantri, Otto Iskandardinata, Dewi Sartika, dan melupakan tokoh Sunda jaman sekarang yang suka mengumbar janji tanpa bukti. Jangan pula terjebak pada tokoh-tokoh yang sering mewacanakan budaya Sunda padahal sekadar menjadikan budaya sebagao alat untuk meraih kekuasaan. *

Monday, October 1, 2007

MEMBACA KREATIF

Artikel Ini Diambil dari Kompas.Com. Kalau tidak salah ditulis oleh Indra Gunawan, Direktur Toko Buku Gramedia


Membaca kreatif tidak berhenti setelah bacaan atau buku tuntas dibaca. Masih ada proses tindak lanjut yang tujuan akhirnya berupa peningkatan kualitas hidup.

Mungkin Anda seorang kutu buku. Namun, apakah isi setiap bacaan atau buku yang baru selesai Anda baca lewat begitu saja?

Ataukah justru memengaruhi pikiran?

Bagaimana upayanya agar segala pengetahuan yang Anda baca benar-benar berguna untuk meningkatkan kualitas hidup Anda?

Apa yang terjadi pada seseorang usai mencermati kata demi kata dalam sebuah bacaan atau buku tidaklah sama. Hasil kegiatan membaca sangat tergantung pada cara membaca yang dipilih. Nah, berdasarkan kedalaman pemahaman terhadap teks bacaan atau berdasarkan tingkatannya, cara membaca dibedakan atas membaca literal, membaca kritis, serta membaca kreatif.

Membaca literal bertujuan hanya mengenal arti yang tertera secara tersurat dalam teks bacaan. Pembaca cukup menangkap informasi yang tertera secara literal (reading the lines) dalam teks bacaan. Ia tidak berusaha mendalami atau menangkap lebih jauh.

Membaca kritis adalah membaca untuk memahami isi bacaan secara rasional, kritis, mendalam, disertai keterlibatan pikiran untuk menganalisis bacaan. Di sini pembaca akan mencamkan lebih dalam materi yang dibacanya. Seorang pembaca kritis menggunakan empat cara secara aktif.

Keempat hal itu meliputi bertanya (seolah-olah berdialog dengan teks bacaan), menyimpulkan, menghubungkan satu keterangan dengan keterangan lain, serta menilai ide-ide dalam bacaan

Tingkatkan kualitas hidup
Yang paling bermakna dalam kegiatan membaca adalah membaca kreatif.

Pada jenis ini kegiatan membaca menjadi sebuah proses untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan baru yang terdapat dalam bacaan. Caranya, dengan mengindentifikasikan ide-ide yang menonjol atau mengombinasikan dengan pengetahuan yang pernah diperoleh sebelumnya.

Dalam membaca kreatif, pembaca dituntut mencermati ide-ide yang dikemukakan penulis, kemu-dian membanding-bandingkannya.

Proses lebih penting dari kegiatan membaca kreatif itu tidak sekadar menangkap makna dan maksud bahan bacaan, tetapi juga menerapkan ide-ide atau informasi yang tertuang dalam bacaan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kualitas hidupnya. Pembaca juga diharapkan dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidupnya berdasarkan informasi dari bacaannya. Dengan menerapkan informasi diharapkan, kualitas hidup pembaca akan lebih terarah dan meningkat. Kalau ternyata begitu selesai membaca tidak ada tindak lanjutnya, berarti ia bukan pembaca kreatif.

Dalam diri seorang pembaca kreatif secara otomatis akan tampak sejumlah kemajuan, baik dalam kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan kata lain, tingkatan membaca kreatif lebih tinggi daripada membaca literal atau kritis.

Manfaat membaca kreatif
Membaca kreatif akan memberikan banyak manfaat dalam berbagai bidang. Misalnya, wacana tentang siraman rohani, pemikiran para budayawan, informasi cara merawat kesehatan tubuh, informasi soal cara membuat makanan atau barang.

Ada juga yang memberikan informasi soal cara memanfaatkan lahan milik kita, misalnya membudidayakan tanaman hias, tanaman obat, dan lain-lain. Apabila Anda tertarik untuk memelihara ternak atau tanaman, dari buku pun Anda dapat belajar cara merawatnya, memilih pupuk atau pakan yang diperlukan, dan sebagainya. Pilihan lain untuk menambah pengetahuan antara lain, cara membuat bangunan dan menata ruangan secara artistik, termasuk cara merenovasi suatu bangunan agar terkesan lebih nyaman dan indah.

Sekarang pun banyak buku yang mengajarkan cara mengatur keuangan keluarga serta cara berinvestasi untuk masa depan. Tak sedikit pula buku psikologi yang dapat memberi masukan tentang cara mendidik dan mengarahkan perkembangan jiwa anak. Ada juga buku tentang hobi atau keterampilan yang mungkin bisa memberikan ide untuk memproduksi sesuatu. Dengan membaca, kita dapat menerapkan pengetahuan baru yang kita peroleh untuk mengembangkan karier atau meningkatkan kemampuan dalam berbagai bidang sesuai kebutuhan masing-masing.

Jadi, bermacam-macam manfaat dapat dipetik dari membaca kreatif.

Ciri pembaca kreatif
Banyak hal akan terjadi pada seorang pembaca kreatif. Beberapa di antaranya adalah:

Kegiatan membaca yang dilakukan tidak berhenti sampai pada saat ia selesai membaca buku.

Ia mampu menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.

Muncul perubahan sikap serta tingkah laku setelah proses membaca dilakukan.

Hasil membaca akan berlaku dan diingat sepanjang masa.

Mampu menilai secara kritis dan kreatif bahan-bahan bacaannya.

Mampu memilih atau menentukan bahan bacaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan atau minatnya.

Mampu memecahkan masalah kehidupan sehari-hari yang sedang dihadapi dengan menggunakan bacaan sebagai pegangan.

Tampak kemajuan dalam cara berpikir atau cara pandang terhadap suatu masalah.
Terbentuk kematangan dalam cara pandang, sikap, dan cara berpikir.

Tampak wawasan semakin jauh ke depan dan mampu membuat analisis sederhana terhadap suatu persoalan.

Ada peningkatan dalam prestasi atau profesionalisme kerja.

Semakin berpikir praktis dan pragmatis dalam segala persoalan.

Semakin kaya ide baik dalam meningkatan mutu maupun membuat terobosan baru dalam memecahkan persoalan.

Semakin kuat dorongan untuk membaca dan mencari terus sumber-sumber baru.

Semakin enak diajak bertukar pikiran atau pengalaman karena ia semakin kaya wawasan.

Tentu saja, gambaran di atas tidak seluruhnya bisa dialami seseorang. Pada prinsipnya, gambaran itu dapat menjadi bahan refleksi, apakah Anda tergolong seorang pembaca kreatif atau tidak?*

Sunday, September 30, 2007

Mencari Roti Sekaligus Mencari Makna

-Nonton Sinetron "Para Pencari Tuhan"



SEWAKTU pertama kali sahur di bulan puasa ini, saya coba putar chanel televisi. Nyaris semua televisi menayangkan lawakan yang dangkal.

Memasuki sahur berikutnya, saya melarang anak saya menghidupkan televisi karena tak ada acara menarik.

'Ada Pak, di SCTV,' katanya.
SCTV ternyata menayangkan sinetron 'Para Pencari Tuhan', produksi Dedy Mizwar. Lagi-lagi saya kecewa nonton sinetron PPT itu. Masa ada orang yang bersembunyi di balik kapan sampai tak ketahuan oleh kru Merebot yang sedang berlatih memulasara jenazah, orang itu sampai dikubur hidup-hidup. Setelah terkubur, tokoh hansip itu, Si Udin bisa bangkit dari kubur. Lewat chating, saya protes terhadap teman saya, Arief Gustaman yang ikut main sekaligus sebagai tim kreatif di sinetron PPT.

'Kang, sinetronmu itu mengabaikan logika,' kata saya.
'Di mana tak logisnya?' Kang Arief balik bertanya. Saya lalu menunjukkan letak ketidalogisan cerita itu.

'Tapi kan yang penting pesen moralnya, bukan logikanya,' kata Kang Arief akhirnya.

Tentu saja saya menertawakan alasan itu. Sebagus apapun moral cerita, logika tetap harus dijaga.

'Sudahlah, kamu tonton saja dulu semuanya,' katanya, nadanya marah.
Awalnya saya pesimistis dengan PPT itu. Setelah tiap sahur saya tongkrongi, ternyata janji teman saya itu tidak meleset, saya dan keluarga benar-benar ketagihan nonton PPT. Sebab keesokan harinya bisa dikatakan saya tak menemukan lagi aspek yang tidak logis dalam PPT. Paling tidak, tak ada yang fatal seperti Si Udin yang dikubur hidup-hidup bisa bangkit.

Terus terang saja, menonton PPT di tengah membanjirnya lawakan dangkal dan sinetron yang niru-niru film India, saya seakan menemukan oase. Saya kira, bukan karena pesan moralnya saja PPT digemari penonton sehingga ratingnya lumayan tinggi, tapi masalah yang diusungnya soal-soal keseharian masyarakat kita, lalu watak-watak pemainnnya pun mudah kita temukan dalam keseharian.

Tokoh kikir seperti Pak Jalal, judesnya Si Aya yang diuber-uber si Azam, watak Ustad Akri sebagai suami yang takut sama istri, plus watak tiga serangkai si Juki, si Barong dan si Chelsea, menarik karena watak mereka mudah kita temukan dalam kehidupan real sehari-hari.

Kalau kemudian PPT ratingnya terus naik, sampai-sampai penonton minta durasinya ditambah, bukankah itu menunjukkan sinetron-sinetron yang sarat pesen moral kalau memang dikemas dengan baik, toh tetap mendatangkan hasil bisnis yang menggembirakan.

PPT sudah menunjukkan kemampuan, mencari roti sekaligus mencari makna. Berbisnis sambil gigih mencari Tuhan alangkah terpujinya. Saya sendiri rela menghabiskan waktu sahur nonton PPT walaupun iklannya banyak.

Tampaknya, kejelian produser untuk menghindari samudra merah sehingga PPT cukup berhasil di era Ramadan ini, sementara televisi lain di acara sahur itu berlomba menayangkan lawakan-lawakan yang dangkal. Alih-alih bisa mengocok perut, saya malah tak sampai semenit pindah chanel. Alih-alih ratingnya naik, eh malah kena semprot MUI dengan memasukkannya sebagai acara yang tak layak tonton.

Ya, karena baru-baru ini MUI mengeluarkan fatwa beberapa acara televisi, di antaranya acara sahur, tidak layak tonton, antara lain lawakan yang dibintangi Tukul dan Olga Syahputra.*

Tribun Jabar, Minggu 30 September 2007

Monday, September 17, 2007

MY FAMILY,

Foto ini My Famili, Selma Mutia Pramanik (anak kedua, baju merah), Tuti Nurhayati

(istriku, baju pink berkacamata), Galuh Eka Siti Nurinsani (baju ijo pake kacamata),

dan si bungsu Zaha Rayatri Aptissimi (di pangkuan ibunya).

Sunday, September 16, 2007

Pelajaran Bahaya Korupsi dari Meja Makan

ISU korupsi sudah jadi santapan masyarakat sehari-hari. Tak terbilang berapa tokoh-tokoh nasional yang seharusnya jadi panutan masyarakat, malah terjerat korupsi. Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI yang baru saja dinobatkan jadi wakil rakyat yang terhormat, eh malah divonis bersalah karena korupsi, dan harus masuk penjara.
Kasus korupsi memang bisa dikatakan setiap hari muncul baik di televisi maupun surat kabar. Tapi sepertinya tidak semua masyarakat menyadari betapa hebatnya daya rusak korupsi.
Tak sedikit yang menganggap, korupsi itu jadi masalah karena ketahuan atau terbongkar. Dan biasanya, korupsi yang dilakukan seseorang itu terungkap karena ada orang yang membongkarnya. Terus biasanya, orang yang membongkar korupsi seseorang dilandasi sakit hati tak kebagian, atau orang yang mengincar jabatan si pelaku.
Kalau korupsi itu tak ada yang membongkar, dianggapnya tak ada orang lain yang dirugikan. Orang yang ribut menuduh itu dianggapnya karena tak kebagian saja.
Anggapan-anggapan tersebut di antaranya muncul dalam benak seorang siswi SMP. "Pak, kenapa sih orang yang korupsi harus ditangkap dan dipenjara, kan dia tidak merugikan orang lain? Dia kan cuma ngambil duit kantor."
Pertanyaan anak kedua saya itu tentu saja membuat saya terkejut. Bagaimana dia bisa punya asumsi seperti itu?
Ternyata, dalam pengakuannya, anak saya itu sering ngobrol bersama teman-temannya. Dalam perbincangan dengan teman-temannya itu, menurut informasi dari orang tua mereka, korupsi hanyalah pelanggaran memperkaya diri sendiri saja, tapi tidak merugikan orang lain.
Kalau anggapan tersebut hidup dalam benak sebagian besar masyarakat kita, luar biasa berbahaya. Bayangkan, dalam sepuluh generasi pun, korupsi di negara kita akan sulit diberantas.
Celakanya, walaupun tidak pernah ada penelitian tentang benar tidaknya anggapan tersebut hidup dalam benak masyarakat, kalau dilihat dari kasus korupsi yang muncul dan bagaimana reaksi keluarga pelaku yang dituduh korupsi, bisa disebutkan kenyataannya memang seperti yang diperbincangkan anak saya tadi.
Simak saja kasus korupsi yang dilakukan mantan Kabulog Puspoyo Widjanarko. Anggota keluarga bukan saja mendukung secara moral agar pelaku tabah menghadapi cobaan, tapi ikut berjamaah melakukan korupsi. Anak, istri, adik sama-sama sama-sama terlibat. Syaukani saja menggelar hajatan tanpa rasa malu. Kemewahan malah dipamerkan.
Dalam diskusi pencegahan korupsi di Hotel Panghegar setahun lalu, Koordinator ICW Teten Masduki menyatakan, penangkapan dan pengadilan terhadap pelaku korupsi seperti yang dilakukan aparat KPK, memang penting untuk membuat efek jera.
Namun Teten kemudian mengingatkan, jangan lupa, tindakan preventif agar anak cucu kita sadar bahaya korupsi, juga lebih penting. Mengenai caranya, saat itu Teten mengatakan dengan banyak diskusi ke kampus-kampus, komunitas-komunitas lebih kecil, hingga ke pelosok.
Tentu saja cara tersebut tetap perlu dilakukan, namun kalau orientasinya ingin agar anak cucu kita sejak usia dini sadar betapa dahsyatnya bahaya korupsi, tentu tidak cukup dengan diskusi atau seminar. Anak-anak usia dini cepat bosan menyimak diskusi dan seminar.
Salah satu caranya, harus seperti seorang guru mengajarkan pelajaran tersulit, yakni matematika, fisika, atau kimia. Mengajarkannya harus pelan-pelan biar siswa memahami dan caranya harus fun.
Kepada anak usia dini, baik usia taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai SMP bahkan SMA, bahaya korupsi bisa diterangkan dengan ilustrasi paling sederhana oleh orang tuanya di rumah atau guru di sekolah.
Di rumah, orang tua bisa mulai dengan kehidupan di lingkungan rumahnya. Misalnya, seorang ibu yang memiliki tiga anaknya menjelaskan, pengeluaran untuk semua kebutuhan rumah tangga, mulai dari pendidikan, belanja sehari-hari, kesehatan, bayar telepon, listrik dan sebagainya, setiap bulannya menghabiskan Rp 2 juta. Sementara itu penghasilan sang ayah pun sekitar Rp 2 Juta. Artinya, penghasilan ayahnya itu setiap bulannya habis digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Kalau saja dalam satu bulan itu ada uang yang diambil oleh salah satu anggota keluarganya, maka anggaran rumah tangga jadi goncang. Misalnya, sang ayah yang biasanya setor gaji Rp 2 juta, tiba-tiba hanya setor Rp 1,5 juta dengan berbagai alasan. Padahal, uang sebesar Rp 500 ribu itu digunakan oleh sang ayah untuk foya-foya dengan temannya.
Mau tak mau sang ibu sebagai pengatur anggaran keluarga, harus mengorbankan salah satu, misalnya biaya pendidikan anaknya ada yang tertunda. Kalau kemudian biaya pendidikan salah satu anaknya yang tertunda itu sulit ditutupi dan berlarut-larut pada bulan berikutnya, maka sekolah pun mengancam mengeluarkan anak itu. Kalau sampai dikeluarkan, maka kesempatan si anak untuk mendapat pendidikan, lenyap. Akibat lebih jauhnya, si anak kehilangan masa depan. Semua itu akibat korupsi yang dilakukan oleh sang ayah.
Sesuai dengan tingkat perkembangan daya pikirnya, anak-anak yang sudah mulai paham diberi ilustrasi bahaya korupsi di lingkungan rumah tangga, bisa mulai diberikan ilustrasi bagaimana kalau kepala desa, camat, walikota, gubernur, presiden dan wakil rakyat mengkorup uang negara. Mereka harus sadar bahwa uang negara itu adalah uang yang berasal dari rakyat, yakni melalui pajak, laba usaha badan usaha milik negara, bahkan melalui utang ke negara lain dan rakyat pula yang membayarnya. Uang negara merupakan modal untuk membangun bangsa, baik pendidikan, infrastruktur seperti jalan, jembatan, kesehatan, dan jaringan infrastruktur lainnya. Kalau uang tersebut dikorup, maka pembangunan menjadi korbannya. Misalnya sekolah sulit didirikan karena uangnya menguap.
Memang tak ada resep atau strategi jitu untuk memberantas korupsi. Tapi kalau tidak dicari terbososan untuk menangkal korupsi di masa depan, maka negara ini kian keropos karena generasinya diwarisi watak korupsi oleh pendahulunya

Tuesday, September 11, 2007

RENUNGAN HARIAN

Orang yang selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang lain tidak berarti ia selalu berhasil dalam upayanya tersebut. Seringkali bahkan keputusan seseorang di luar dirinya tapi berkaitan dengan dirinya, malah menyakiti orang lain yang justru disayanginya; apakah dia keluarga, teman, rekan sejawat, anak buah bahkan bos.
Di sinilah seseorang dihadapkan pada situasi dilematis. Memang selalu ada nasihat bahwa manusia harus tegar dan berani menghadapi segala situasi. Tapi seringkali juga tidak mudah menyelesaikannya. Orang yang berusaha menghendaki terciptanya harmoni, terkadang situasi lebih sering menyeret pada kondisi sebaliknya. Dalam kondisi demikian manusia akan terukur sejauhmana kematangan dan kedawasaannya.