SEBAGAI orang yang dilahirkan di kampung, saya selalu terpesona kalau melihat kota. Tak usah jauh-jauh ke kota di penjuru tanah air, apalagi di luar negeri. Sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bandung saja, saya takjub. Terpesona. Apalagi sewaktu pertama kali ke Jakarta. Gedung-gedung megah, seakan berlomba paling kuasa dan ingin setara langit. Jalan layang pun saling melintang. Itulah dinamika pembangunan.
Tapi itu puluhan tahun lalu, saat masih ingusan. Sekarang, memang masih juga terpana. Tapi bukan terpesona, melainkan ngangres, alias prihatin. Kalau dipikir-pikir, secara kasat mata, kita ini megah, tapi sebenarnya rapuh.
Coba saja peristiwa renungkan periswa mobil Honda Jazz yang jatuh dari lantai tujuh gedung parkir Pertokoan ITC Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis, 17 Mei 2007. Satu keluarga terenggut nyawanya. Boleh-boleh saja muniding pengendara kurang mahir mengendarai mobil sehingga menabrak dinding. Tapi kalau saja dindingnya kuat, tak akan sampai menelan korban. Bukankah pertokoan itu megah?
Ya, megah secara kasat mata. Secara lahir. Sebagai kemasan agar banyak menarik pengunjung. Kenyataannya gedung itu rapuh. Itu juga menunjukkan manajemen yang membangun gedung itu rapuh, tidak hati-hati, tidak memikirkan keselamatan manusia.
Apakah bangsa dan negara kita megah? Tak ada yang menampik. Bangsa lain pun mengakui kalau kita sebagai bangsa yang megah. Mereka iri dengan tanah air kita yang kaya, budaya yang aneka ragam, juga kekayaan laut dan hutannya.
Apa yang bisa kita petik dari kemegahan itu? Kekayaan alam direguk bangsa lain karena kita tak mampu mengolahnya. Yang menyedihkan, kekayaan budaya, yang sudah jelas-jelas hasil daya cipta anak bangsa kita, hak patennya diambil bangsa lain. Contoh kecil seni angklung dan makanan tempe. Angklung hak patennya mau diambil Malaysia, tempe malah sudah jadi hak paten Jepang. Betul-betul prihatin.
Kalau melihat jenderal, sungguh gagah. Dengan seragam dan tanda bintang di pundak, kalau pidato sering menunjukkan wibawanya. Apalagi kalau sedang menenteng senjata. Tapi, sungguh rapuh ketika ingin berpartisipasi dalam politik. Di Pilkada DKI, berapa jendral yang mengaku dipalak partai dengan iming-iming akan dijadikan kandidat Gubernur DKI. Uang miliaran pun digelontorkan. Ketika partai akhirnya memilih Prijanto, mereka marah. Sakit hati. Merasa ditipu mentah-mentah. Lalu uring-uringan minta uang kembali. Bukankah jenderal itu gagah? Ya, seragamnya, tapi rapuh ketika melihat kekuasaan. Berwibawa tapi cengeng ketika uangnya tak kembali.
Partai pun, baik yang mengaku sebagai partai besar atau pun yang nyata-nyata cuma jadi partai gurem, kalau lagi mengerahkan massa seakan terlihat paling megah dan paling berkuasa. Para tokohnya, kalau ngomong seakan paling benar dan palin bijak. Tapi ketika anggotanya terlibat kasus korupsi, petinggi partai panik dan guyub untuk melakukan perlawanan terhadap proses hukum. Mereka yang biasanya sok bijak, ketika dihadapkan pada uang, mendadak diam. Mereka yang biasanya sok gagah, ketika dihadapkan pada kasus hukum, mendadak blingsatan. Itulah yang terjadi pada beberapa partai di Jawa Barat yang anggotanya sedang terjerat kasus kavlinggate. Mereka menggelar pertemuan di hotel untuk sesuatu yang konyol dan tidak terpuji. Hmmmmmmhhh.........mereka yang sok gagah itu sebenarnya rapuh sekali.*
Tribun Jabar, 17 Juni 2007
Friday, September 7, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment