-Nonton Sinetron "Para Pencari Tuhan"
SEWAKTU pertama kali sahur di bulan puasa ini, saya coba putar chanel televisi. Nyaris semua televisi menayangkan lawakan yang dangkal.
Memasuki sahur berikutnya, saya melarang anak saya menghidupkan televisi karena tak ada acara menarik.
'Ada Pak, di SCTV,' katanya.
SCTV ternyata menayangkan sinetron 'Para Pencari Tuhan', produksi Dedy Mizwar. Lagi-lagi saya kecewa nonton sinetron PPT itu. Masa ada orang yang bersembunyi di balik kapan sampai tak ketahuan oleh kru Merebot yang sedang berlatih memulasara jenazah, orang itu sampai dikubur hidup-hidup. Setelah terkubur, tokoh hansip itu, Si Udin bisa bangkit dari kubur. Lewat chating, saya protes terhadap teman saya, Arief Gustaman yang ikut main sekaligus sebagai tim kreatif di sinetron PPT.
'Kang, sinetronmu itu mengabaikan logika,' kata saya.
'Di mana tak logisnya?' Kang Arief balik bertanya. Saya lalu menunjukkan letak ketidalogisan cerita itu.
'Tapi kan yang penting pesen moralnya, bukan logikanya,' kata Kang Arief akhirnya.
Tentu saja saya menertawakan alasan itu. Sebagus apapun moral cerita, logika tetap harus dijaga.
'Sudahlah, kamu tonton saja dulu semuanya,' katanya, nadanya marah.
Awalnya saya pesimistis dengan PPT itu. Setelah tiap sahur saya tongkrongi, ternyata janji teman saya itu tidak meleset, saya dan keluarga benar-benar ketagihan nonton PPT. Sebab keesokan harinya bisa dikatakan saya tak menemukan lagi aspek yang tidak logis dalam PPT. Paling tidak, tak ada yang fatal seperti Si Udin yang dikubur hidup-hidup bisa bangkit.
Terus terang saja, menonton PPT di tengah membanjirnya lawakan dangkal dan sinetron yang niru-niru film India, saya seakan menemukan oase. Saya kira, bukan karena pesan moralnya saja PPT digemari penonton sehingga ratingnya lumayan tinggi, tapi masalah yang diusungnya soal-soal keseharian masyarakat kita, lalu watak-watak pemainnnya pun mudah kita temukan dalam keseharian.
Tokoh kikir seperti Pak Jalal, judesnya Si Aya yang diuber-uber si Azam, watak Ustad Akri sebagai suami yang takut sama istri, plus watak tiga serangkai si Juki, si Barong dan si Chelsea, menarik karena watak mereka mudah kita temukan dalam kehidupan real sehari-hari.
Kalau kemudian PPT ratingnya terus naik, sampai-sampai penonton minta durasinya ditambah, bukankah itu menunjukkan sinetron-sinetron yang sarat pesen moral kalau memang dikemas dengan baik, toh tetap mendatangkan hasil bisnis yang menggembirakan.
PPT sudah menunjukkan kemampuan, mencari roti sekaligus mencari makna. Berbisnis sambil gigih mencari Tuhan alangkah terpujinya. Saya sendiri rela menghabiskan waktu sahur nonton PPT walaupun iklannya banyak.
Tampaknya, kejelian produser untuk menghindari samudra merah sehingga PPT cukup berhasil di era Ramadan ini, sementara televisi lain di acara sahur itu berlomba menayangkan lawakan-lawakan yang dangkal. Alih-alih bisa mengocok perut, saya malah tak sampai semenit pindah chanel. Alih-alih ratingnya naik, eh malah kena semprot MUI dengan memasukkannya sebagai acara yang tak layak tonton.
Ya, karena baru-baru ini MUI mengeluarkan fatwa beberapa acara televisi, di antaranya acara sahur, tidak layak tonton, antara lain lawakan yang dibintangi Tukul dan Olga Syahputra.*
Tribun Jabar, Minggu 30 September 2007
Sunday, September 30, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
Wahhhh.. kang Cecep ikut keranjingan nonton sinetron yang dibintangi kang Arief Bustaman. Bikin dong novel atau cerpen berisi pesan moral tapi disampaikan secara cerdas. kang Cecep kan budayawan Sunda yang kondang. Siapa tahu ada produser yang tertarik memindahkan ke layar kaca.. Ya daripada marah-marah pada Kang Arief..
Post a Comment