| SOROT | |
SEPERTI APA ORANG HEBAT ITU? | Cecep Burdansyah |
| NEGARA boleh porak-poranda diinvasi keangkuhan negara adidaya, tapi semangat untuk jadi pemenang tak boleh padam. Saya kira semua sependapat, semangat kesebelasan Irak untuk jadi pemenang di Piala Asia tak sekadar diumbar melalui kata- kata, baik pemainnya maupun pelatih dan tim manajernya, tapi lewat jerih payah. Hal itu tergambar dari sikap para pemain Irak di setiap pertandingan di Piala Asia 2007. Mereka fokus pada pertandingan. Arab Saudi yang dibilang tak memiliki problem di negaranya tak berdaya menghadapi skill dan semangat pemain Irak. Tim asuhan Jorvan Vieira itu betul-betul menguasai permainan. Padahal tak menutup kemungkinan, siapa tahu jauh di lubuk hatinya mereka sedang prihatin mengingat negaranya yang terus tercabik-cabik akibat konflik bersaudara pasca tumbangnya diktator Saddam Hussein. Bahkan setelah unggul menjadi juara Piala Asia 2007, para pemain memilih balik ke kandang klubnya masing-masing di luar negerinya ketimbang pulang ke negaranya. Tentu saja bukan karena tidak bangga membawa panji kemenangan kepada bangsanya, tapi keamananlah yang mereka pertimbangkan. Hebatnya lagi, pelatih Irak yang asal Brasil itu, Jorvan Vieira, mengaku baru menangani skuad Irak dua bulan lalu. Para pemain Irak pun harus dipanggil dulu dari masing-masing klubnya yang berada di luar Irak. Ternyata kekompakan, semangat teamwork dan skill individu bisa mengatasi berbagai hambatan untuk jadi juara. Tak heran kalau Wapres Jusuf Kalla langsung menyanjung mereka. Menurut Kalla, semalam kita dipertontonkan spirit luar biasa oleh negara yang porak-poranda di mana lapangan bola semua dari pasir dan jarang yang berumput. Tapi mereka bisa juara. Dan jangan salah. Di Piala Asia, banyak tim baik yang berlaga. Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Vietnam, Australia, bahkan kesebelasan kesayangan kita, tim Indonesia, termasuk tim yang baik dalam penampilannya, jauh di banding beberapa tahun lalu. Tetapi Irak sudah melompat lebih jauh. Mereka merasa tidak lagi cukup menjadi tim yang baik, mereka sudah membuktikan diri sebagai tim yang hebat. Irak sudah mereguk momentum yang didengungkan Jim Collins dalam bukunya Good to Great. Untuk menjadi juara di kancah dunia, tim baik tak memenuhi syarat. Tim hebatlah yang layak tampil ke panggung. Sungguh membuat penasaran, kultur apa yang hidup pada bangsa Irak, sehingga mereka mampu menunjukkan sisi hebatnya. Memang menakjubkan, tatkala negaranya habis dibombardir, seorang wartawan foto sempat mengabadikan sekelompok pemuda tengah berlatih sepakbola, padahal di angkasa roket dan rudal berseliweran. Kemenangan Irak di Piala Asia itu juga mengingatkan pada sesosok wanita Irak yang berhasil terpilih untuk mendesain pabrik mobil BMW di Leipzig Jerman, Zaha Hadid. Perempuan kelahiran Baghdad yang kemudian mukim di London itu mengalahkan 25 arsitek pesaingnya untuk mendesain bangunan utama di tanah seluas 40.000 meter persegi. Tim juri internasional sebanyak 11 orang, sudah pasti orang-orang kompeten. Keunggulan Zaha terletak pada kemampuannya menerjemahkan tema bangunan yang diinginkan BMW, yakni keterbukaan. Ia mendesain sebuah ruangan yang fleksibel dan tembus pandang di sepanjang tepian jalur untuk kepentingan administrasi dan komunikasi. Ruangan yang tembus pandang itu membuat para karyawan dan tamu yang datang ke pabrik BMW dapat menyaksikan alur proses produksi mobil yang sedang berlangsung. Itulah orang hebat.Zaha dan kesebelasan sepakbola Irak, tahu segala keterbatasan mereka. Tapi semua keterbatasan itu bukan hambatan untuk jadi pemenang. Kita harus iri pada orang-orang seperti itu. * | |
Thursday, September 6, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment