"SAYA ingin sembuh." Itulah kalimat yang terlontar dari Dede, yang oleh pers asing dijuluki "Half Man Half Tree", saat ditanya Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang menjenguknya ke RSHS, Minggu (25/11). Menkes yang datang atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu bertanya apa yang Dede ingin sampaikan kepada presiden.
Dede tidak minta macam-macam. Kalimat "Saya Hanya Ingin Sembuh", walaupun singkat dan sederhana, maknanya terasa sangat dalam. Kalau sudah sembuh, ia bisa bekerja seperti semula, saat tubuhnya belum dirambati penyakit semacam kutil.
Jawaban sederhana itu menggambarkan penderitaan Dede selama ini, dan juga orang- orang yang nasibnya serupa dengan Dede namun belum jadi perhatian publik.
Kisah Dede ini tak pelak jadi kisah kemanusiaan yang jadi perhatian publik di penghujung tahun ini. Pernah ada film produksi Hollywood yang kisahnya persis dengan hidup Dede, judulnya "The Elephant Man". Film yang dibintangi aktor kawakan Anthony Hopkins ini pun berangkat dari kisah nyata. Mirip, tapi tentu saja tidak sama.
Menurut Hanny Purwanto, Dede bertahun-tahun mengemis di Alun-alun Bandung dan depan Pusdai. Tak satu pun yang peduli, sampai akhirnya Hanny menolongnya dengan merekrutnya ke arena pertunjukan. Dede, yang sudah kehilangan nafkah, bahkan hasil mengemis pun tak cukup, tentu saja senang. Hidupnya yang sudah diambang putus asa, terutama setelah istri minta cerai, kembali bangkit. Sampai akhirnya datanglah media asing menayangkan kisah hidupnya.
Sedangkan dalam film "Manusia Gajah", pemilik sirkus, Bytes (Freddi Jones) sengaja mengekploitasi John Merrick (John Hurt), si manusia gajah. Hasil dari pertunjukan tak sesenpun diberikan ke John Merrick. Bahkan kalau John Merick kurang atraktif dalam aksinya sehingga penonton kecewa, si pemilik sirkus menyiksanya. Sampai akhirnya datang seorang dokter bedah, Dr FrederickTreves (Anthony Hopkins) yang ingin menolongnya dan membawa ke rumahsakit. Si pemilik sirkus beusaha mati-matian menghalangi dokter bedah, karena si manusia gajah sudah jadi tambang emas.
Saya membandingkannya dengan film "The Elephant Man" karena Menkes mencurigai ada eksploitasi menimpa Dede. Padahal kalau melihat perjalanan nasib Dede seperti yang dikisahkan Hanny, jauh sekali, tak seburuk yang dialami John Merrick.
Hanny Purwanto, si penolong, justru senang ada pihak yang ingin menyembuhkan Dede dari belenggu penyakitnya. Benar ketika ia bertanya, kemana saja selama ini pemerintah? Kok ributnya baru sekarang setelah media asing mem-blow-up-nya? Kritik ini justru berlaku juga ketika orang-orang senasib seperti Dede masih dibiarkan telantar. Kalau Menkes bilang orang miskin dilindungi negara, seperti diamanatkan UUD 45, kenapa sekarang banyak rakyat miskin dibiarkan telantar, terutama yang berpenyakit.
Tapi, tentu saja, niat baik Menteri Kesehatan perlu diapresiasi juga, baik dalam hal menyembuhkan Dede maupun melindunginya secara hukum untuk menghindari kemungkinan eksploitasi. Dalam hal ini, saya melihat, baik Hanny maupun Menteri Kesehatan sudah berusaha menolong dengan caranya masing-masing. Perkara apakah Dede dieksploitasi atau tidak, kembali kepada diri masing-masing yang selama ini bersinggungan dengan Dede. Sebab niat baik selalu ada efek buruknya, kalau kita lalai. Contoh, dokter Treves pun yang sudah berhasil membawa John Merrick, akhirnya gelisah ketika rumah sakit selalu mengenalkan John Merrick ke forum orang-orang terhormat guna pengumpulan dana untuk amal.
Intinya, seperti dikatakan Dede, "Saya hanya ingin sembuh." Ke sanalah energi kita fokuskan. Semua pihak harus mengawal proses penyembuhan Dede hingga berhasil. Kalau ini sukses, dunia ilmu kedokteran pun ikut terangkat. Semoga lekas sembuh, Dede. *
Tribun Jabar, edisi Selasa 27 November 2007
Tuesday, November 27, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment