Sunday, December 23, 2007

Membajak Kebenaran Hakiki

ANAK berusia kira-kira tak lebih dari tujuh tahun itu memandang ke arah polisi yang lengkap bersenjata laras panjang, sementara badannya merapat ke ayahnya yang sedang menggemakan takbir Idul Adha.

Melalui tayangan televisi, mata si anak yang memandang polisi dan tangannya yang memeluk ayahnya itu, tebersit rasa heran campur rasa takut. Tentu saja anak itu belum paham apa yang sedang terjadi, juga belum bisa menyelami ketakutan yang tengah menghantui ayahnya dan jamaah Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat.

Mungkin sekembali di rumah ayahnya menjelaskan, polisi itu bukan untuk menakut-nakuti anak yang cengeng, juga bukan mau melarang orang melakukan salat Idul Adha. Para polisi itu justru melindungi jamaah Ahmadiyah dari amuk massa, setelah dua hari lalu, Selasa (18/12), mesjid mereka dirusak.

Peristiwa kekerasan yang dialami warga Ahmadiyah di Kuningan, kemudian esoknya disusul di Tasikmalaya, merupakan kekerasan yang berulang-ulang yang dialami warga Ahmadiyah setelah terjadi di Bogor. Di Tasikmalaya, Jumat (21/12), warga Ahmadiyah terpaksa melakukan salat Jumat di rumah. Jelas sudah, ketenangan hidup mereka sudah terampas.

Apa gerangan yang membuat toleransi di kalangan umat beragama kini seperti meranggas, malah berubah wujud jadi kebencian? Padahal, seperti yang saya alami, sejak kecil guru ngaji sudah mengajarkan, janganlah kamu membunuh makhluk hidup, karena makhluk hidup diciptakan Allah ada maksudnya. Bahkan binatang buas pun, sepanjang tidak mengancam jiwa kita, kita harus melindunginya.

Cobalah simak biografi Nabi Muhammad saw yang ditulis seorang muslim, Haekal atau seorang nasrani, Karen Amstrong. Muhammad mengajarkan ajaran Islam tidak dengan pedang terhunus, tapi dengan dakwah disertai sikap hidup yang sederhana dan penuh toleransi. Justru dengan sikap santun dan kesederhanaan itulah yang membuat dakwah Nabi mampu menusuk kalbu umat manusia untuk mengikuti jejak dan ajaran Islam. Muhammad mampu membawa umatnya untuk hidup berdampingan dengan umat yang berbeda keyakinan, dan berlangsung damai. Dari cara hidup yang diajarkan Muhammad lah peradaban Islam bersinar.

Dalam genggaman Dinasti Umayyah, Andalusia (Spanyol sekarang) mengecap kejayaan Islam karena toleransi dijadikan pilar kehidupan bermasyarakat. Lahirlah para ilmuwan terkemuka seperti Ibnu Rusyd. Sebaliknya, penguasa penggantinya, Dinasti Al-Muwabithun dan Dinasti Al- Muwahhiddun memusuhi dan menyiksa orang yang berbeda keyakinan. Bahkan di antara sesama umat pun saling membenci. Kebencian akhirnya melahirkan kebencian. Tenggelamlah kejayaan Andalusia.

Sebagai Muslim dan bukan pengikut Ahmadiyah, la kum dinikum waliyaddin, saya juga mengenal: bagiku agamaku, bagimu agamamu. Tapi itu bukan berarti umat Muslim harus terpenjara oleh keyakinan sendiri demi membinasakan kaum lain yang berbeda keyakinan.

Umat Muslim sejak kecil sudah diajarkan untuk merendah di depan Allah, itulah salat lima waktu, karena hanya Allah yang maha benar. Kalau ada sekelompok merasa yakin sebagai paling benar lalu menghancurkan orang lain, dia telah membajak kebenaran hakiki, kebenaran paling tinggi yang hanya dimiliki Allah.

Seorang profesor matematika yang atheis di Amerika Serikat, Jeffry Lang, memilih jadi pemeluk Islam sejati setelah melihat cara hidup keluarga muslim yang sarat toleransi dan penuh kedamaian. Di kemudian hari, ia melihat kenyataan bahwa di kalangan Muslim pun tak sama dalam memahami Islam, bahkan ia menemukan pemeluk Islam yang sarat tahayul. Tapi itu tak membuatnya goyah dari Islam. Ia tetap kokoh sebagai muslim sejati yang bisa menghargai perbedaan. Di situlah indahnya Islam. Bukan saja ia mengagumi ajaran Islam, tapi juga mengamalkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku. *












ANAK berusia kira-kira tak lebih dari tujuh tahun itu memandang ke arah polisi yang lengkap bersenjata laras panjang, sementara badannya merapat ke ayahnya yang sedang menggemakan takbir Idul Adha.

Melalui tayangan televisi, mata si anak yang memandang polisi dan tangannya yang memeluk ayahnya itu, tebersit rasa heran campur rasa takut. Tentu saja anak itu belum paham apa yang sedang terjadi, juga belum bisa menyelami ketakutan yang tengah menghantui ayahnya dan jamaah Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat.

Mungkin sekembali di rumah ayahnya menjelaskan, polisi itu bukan untuk menakut-nakuti anak yang cengeng, juga bukan mau melarang orang melakukan salat Idul Adha. Para polisi itu justru melindungi jamaah Ahmadiyah dari amuk massa, setelah dua hari lalu, Selasa (18/12), mesjid mereka dirusak.

Peristiwa kekerasan yang dialami warga Ahmadiyah di Kuningan, kemudian esoknya disusul di Tasikmalaya, merupakan kekerasan yang berulang-ulang yang dialami warga Ahmadiyah setelah terjadi di Bogor. Di Tasikmalaya, Jumat (21/12), warga Ahmadiyah terpaksa melakukan salat Jumat di rumah. Jelas sudah, ketenangan hidup mereka sudah terampas.

Apa gerangan yang membuat toleransi di kalangan umat beragama kini seperti meranggas, malah berubah wujud jadi kebencian? Padahal, seperti yang saya alami, sejak kecil guru ngaji sudah mengajarkan, janganlah kamu membunuh makhluk hidup, karena makhluk hidup diciptakan Allah ada maksudnya. Bahkan binatang buas pun, sepanjang tidak mengancam jiwa kita, kita harus melindunginya.

Cobalah simak biografi Nabi Muhammad saw yang ditulis seorang muslim, Haekal atau seorang nasrani, Karen Amstrong. Muhammad mengajarkan ajaran Islam tidak dengan pedang terhunus, tapi dengan dakwah disertai sikap hidup yang sederhana dan penuh toleransi. Justru dengan sikap santun dan kesederhanaan itulah yang membuat dakwah Nabi mampu menusuk kalbu umat manusia untuk mengikuti jejak dan ajaran Islam. Muhammad mampu membawa umatnya untuk hidup berdampingan dengan umat yang berbeda keyakinan, dan berlangsung damai. Dari cara hidup yang diajarkan Muhammad lah peradaban Islam bersinar.

Dalam genggaman Dinasti Umayyah, Andalusia (Spanyol sekarang) mengecap kejayaan Islam karena toleransi dijadikan pilar kehidupan bermasyarakat. Lahirlah para ilmuwan terkemuka seperti Ibnu Rusyd. Sebaliknya, penguasa penggantinya, Dinasti Al-Muwabithun dan Dinasti Al- Muwahhiddun memusuhi dan menyiksa orang yang berbeda keyakinan. Bahkan di antara sesama umat pun saling membenci. Kebencian akhirnya melahirkan kebencian. Tenggelamlah kejayaan Andalusia.

Sebagai Muslim dan bukan pengikut Ahmadiyah, la kum dinikum waliyaddin, saya juga mengenal: bagiku agamaku, bagimu agamamu. Tapi itu bukan berarti umat Muslim harus terpenjara oleh keyakinan sendiri demi membinasakan kaum lain yang berbeda keyakinan.

Umat Muslim sejak kecil sudah diajarkan untuk merendah di depan Allah, itulah salat lima waktu, karena hanya Allah yang maha benar. Kalau ada sekelompok merasa yakin sebagai paling benar lalu menghancurkan orang lain, dia telah membajak kebenaran hakiki, kebenaran paling tinggi yang hanya dimiliki Allah.

Seorang profesor matematika yang atheis di Amerika Serikat, Jeffry Lang, memilih jadi pemeluk Islam sejati setelah melihat cara hidup keluarga muslim yang sarat toleransi dan penuh kedamaian. Di kemudian hari, ia melihat kenyataan bahwa di kalangan Muslim pun tak sama dalam memahami Islam, bahkan ia menemukan pemeluk Islam yang sarat tahayul. Tapi itu tak membuatnya goyah dari Islam. Ia tetap kokoh sebagai muslim sejati yang bisa menghargai perbedaan. Di situlah indahnya Islam. Bukan saja ia mengagumi ajaran Islam, tapi juga mengamalkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku. *

0 comments: