-Nonton Sinetron "Para Pencari Tuhan"
SEWAKTU pertama kali sahur di bulan puasa ini, saya coba putar chanel televisi. Nyaris semua televisi menayangkan lawakan yang dangkal.
Memasuki sahur berikutnya, saya melarang anak saya menghidupkan televisi karena tak ada acara menarik.
'Ada Pak, di SCTV,' katanya.
SCTV ternyata menayangkan sinetron 'Para Pencari Tuhan', produksi Dedy Mizwar. Lagi-lagi saya kecewa nonton sinetron PPT itu. Masa ada orang yang bersembunyi di balik kapan sampai tak ketahuan oleh kru Merebot yang sedang berlatih memulasara jenazah, orang itu sampai dikubur hidup-hidup. Setelah terkubur, tokoh hansip itu, Si Udin bisa bangkit dari kubur. Lewat chating, saya protes terhadap teman saya, Arief Gustaman yang ikut main sekaligus sebagai tim kreatif di sinetron PPT.
'Kang, sinetronmu itu mengabaikan logika,' kata saya.
'Di mana tak logisnya?' Kang Arief balik bertanya. Saya lalu menunjukkan letak ketidalogisan cerita itu.
'Tapi kan yang penting pesen moralnya, bukan logikanya,' kata Kang Arief akhirnya.
Tentu saja saya menertawakan alasan itu. Sebagus apapun moral cerita, logika tetap harus dijaga.
'Sudahlah, kamu tonton saja dulu semuanya,' katanya, nadanya marah.
Awalnya saya pesimistis dengan PPT itu. Setelah tiap sahur saya tongkrongi, ternyata janji teman saya itu tidak meleset, saya dan keluarga benar-benar ketagihan nonton PPT. Sebab keesokan harinya bisa dikatakan saya tak menemukan lagi aspek yang tidak logis dalam PPT. Paling tidak, tak ada yang fatal seperti Si Udin yang dikubur hidup-hidup bisa bangkit.
Terus terang saja, menonton PPT di tengah membanjirnya lawakan dangkal dan sinetron yang niru-niru film India, saya seakan menemukan oase. Saya kira, bukan karena pesan moralnya saja PPT digemari penonton sehingga ratingnya lumayan tinggi, tapi masalah yang diusungnya soal-soal keseharian masyarakat kita, lalu watak-watak pemainnnya pun mudah kita temukan dalam keseharian.
Tokoh kikir seperti Pak Jalal, judesnya Si Aya yang diuber-uber si Azam, watak Ustad Akri sebagai suami yang takut sama istri, plus watak tiga serangkai si Juki, si Barong dan si Chelsea, menarik karena watak mereka mudah kita temukan dalam kehidupan real sehari-hari.
Kalau kemudian PPT ratingnya terus naik, sampai-sampai penonton minta durasinya ditambah, bukankah itu menunjukkan sinetron-sinetron yang sarat pesen moral kalau memang dikemas dengan baik, toh tetap mendatangkan hasil bisnis yang menggembirakan.
PPT sudah menunjukkan kemampuan, mencari roti sekaligus mencari makna. Berbisnis sambil gigih mencari Tuhan alangkah terpujinya. Saya sendiri rela menghabiskan waktu sahur nonton PPT walaupun iklannya banyak.
Tampaknya, kejelian produser untuk menghindari samudra merah sehingga PPT cukup berhasil di era Ramadan ini, sementara televisi lain di acara sahur itu berlomba menayangkan lawakan-lawakan yang dangkal. Alih-alih bisa mengocok perut, saya malah tak sampai semenit pindah chanel. Alih-alih ratingnya naik, eh malah kena semprot MUI dengan memasukkannya sebagai acara yang tak layak tonton.
Ya, karena baru-baru ini MUI mengeluarkan fatwa beberapa acara televisi, di antaranya acara sahur, tidak layak tonton, antara lain lawakan yang dibintangi Tukul dan Olga Syahputra.*
Tribun Jabar, Minggu 30 September 2007
Sunday, September 30, 2007
Monday, September 17, 2007
MY FAMILY,
Foto ini My Famili, Selma Mutia Pramanik (anak kedua, baju merah), Tuti Nurhayati
(istriku, baju pink berkacamata), Galuh Eka Siti Nurinsani (baju ijo pake kacamata),
dan si bungsu Zaha Rayatri Aptissimi (di pangkuan ibunya).
(istriku, baju pink berkacamata), Galuh Eka Siti Nurinsani (baju ijo pake kacamata),
dan si bungsu Zaha Rayatri Aptissimi (di pangkuan ibunya).
Sunday, September 16, 2007
Pelajaran Bahaya Korupsi dari Meja Makan
ISU korupsi sudah jadi santapan masyarakat sehari-hari. Tak terbilang berapa tokoh-tokoh nasional yang seharusnya jadi panutan masyarakat, malah terjerat korupsi. Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI yang baru saja dinobatkan jadi wakil rakyat yang terhormat, eh malah divonis bersalah karena korupsi, dan harus masuk penjara.
Kasus korupsi memang bisa dikatakan setiap hari muncul baik di televisi maupun surat kabar. Tapi sepertinya tidak semua masyarakat menyadari betapa hebatnya daya rusak korupsi.
Tak sedikit yang menganggap, korupsi itu jadi masalah karena ketahuan atau terbongkar. Dan biasanya, korupsi yang dilakukan seseorang itu terungkap karena ada orang yang membongkarnya. Terus biasanya, orang yang membongkar korupsi seseorang dilandasi sakit hati tak kebagian, atau orang yang mengincar jabatan si pelaku.
Kalau korupsi itu tak ada yang membongkar, dianggapnya tak ada orang lain yang dirugikan. Orang yang ribut menuduh itu dianggapnya karena tak kebagian saja.
Anggapan-anggapan tersebut di antaranya muncul dalam benak seorang siswi SMP. "Pak, kenapa sih orang yang korupsi harus ditangkap dan dipenjara, kan dia tidak merugikan orang lain? Dia kan cuma ngambil duit kantor."
Pertanyaan anak kedua saya itu tentu saja membuat saya terkejut. Bagaimana dia bisa punya asumsi seperti itu?
Ternyata, dalam pengakuannya, anak saya itu sering ngobrol bersama teman-temannya. Dalam perbincangan dengan teman-temannya itu, menurut informasi dari orang tua mereka, korupsi hanyalah pelanggaran memperkaya diri sendiri saja, tapi tidak merugikan orang lain.
Kalau anggapan tersebut hidup dalam benak sebagian besar masyarakat kita, luar biasa berbahaya. Bayangkan, dalam sepuluh generasi pun, korupsi di negara kita akan sulit diberantas.
Celakanya, walaupun tidak pernah ada penelitian tentang benar tidaknya anggapan tersebut hidup dalam benak masyarakat, kalau dilihat dari kasus korupsi yang muncul dan bagaimana reaksi keluarga pelaku yang dituduh korupsi, bisa disebutkan kenyataannya memang seperti yang diperbincangkan anak saya tadi.
Simak saja kasus korupsi yang dilakukan mantan Kabulog Puspoyo Widjanarko. Anggota keluarga bukan saja mendukung secara moral agar pelaku tabah menghadapi cobaan, tapi ikut berjamaah melakukan korupsi. Anak, istri, adik sama-sama sama-sama terlibat. Syaukani saja menggelar hajatan tanpa rasa malu. Kemewahan malah dipamerkan.
Dalam diskusi pencegahan korupsi di Hotel Panghegar setahun lalu, Koordinator ICW Teten Masduki menyatakan, penangkapan dan pengadilan terhadap pelaku korupsi seperti yang dilakukan aparat KPK, memang penting untuk membuat efek jera.
Namun Teten kemudian mengingatkan, jangan lupa, tindakan preventif agar anak cucu kita sadar bahaya korupsi, juga lebih penting. Mengenai caranya, saat itu Teten mengatakan dengan banyak diskusi ke kampus-kampus, komunitas-komunitas lebih kecil, hingga ke pelosok.
Tentu saja cara tersebut tetap perlu dilakukan, namun kalau orientasinya ingin agar anak cucu kita sejak usia dini sadar betapa dahsyatnya bahaya korupsi, tentu tidak cukup dengan diskusi atau seminar. Anak-anak usia dini cepat bosan menyimak diskusi dan seminar.
Salah satu caranya, harus seperti seorang guru mengajarkan pelajaran tersulit, yakni matematika, fisika, atau kimia. Mengajarkannya harus pelan-pelan biar siswa memahami dan caranya harus fun.
Kepada anak usia dini, baik usia taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai SMP bahkan SMA, bahaya korupsi bisa diterangkan dengan ilustrasi paling sederhana oleh orang tuanya di rumah atau guru di sekolah.
Di rumah, orang tua bisa mulai dengan kehidupan di lingkungan rumahnya. Misalnya, seorang ibu yang memiliki tiga anaknya menjelaskan, pengeluaran untuk semua kebutuhan rumah tangga, mulai dari pendidikan, belanja sehari-hari, kesehatan, bayar telepon, listrik dan sebagainya, setiap bulannya menghabiskan Rp 2 juta. Sementara itu penghasilan sang ayah pun sekitar Rp 2 Juta. Artinya, penghasilan ayahnya itu setiap bulannya habis digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Kalau saja dalam satu bulan itu ada uang yang diambil oleh salah satu anggota keluarganya, maka anggaran rumah tangga jadi goncang. Misalnya, sang ayah yang biasanya setor gaji Rp 2 juta, tiba-tiba hanya setor Rp 1,5 juta dengan berbagai alasan. Padahal, uang sebesar Rp 500 ribu itu digunakan oleh sang ayah untuk foya-foya dengan temannya.
Mau tak mau sang ibu sebagai pengatur anggaran keluarga, harus mengorbankan salah satu, misalnya biaya pendidikan anaknya ada yang tertunda. Kalau kemudian biaya pendidikan salah satu anaknya yang tertunda itu sulit ditutupi dan berlarut-larut pada bulan berikutnya, maka sekolah pun mengancam mengeluarkan anak itu. Kalau sampai dikeluarkan, maka kesempatan si anak untuk mendapat pendidikan, lenyap. Akibat lebih jauhnya, si anak kehilangan masa depan. Semua itu akibat korupsi yang dilakukan oleh sang ayah.
Sesuai dengan tingkat perkembangan daya pikirnya, anak-anak yang sudah mulai paham diberi ilustrasi bahaya korupsi di lingkungan rumah tangga, bisa mulai diberikan ilustrasi bagaimana kalau kepala desa, camat, walikota, gubernur, presiden dan wakil rakyat mengkorup uang negara. Mereka harus sadar bahwa uang negara itu adalah uang yang berasal dari rakyat, yakni melalui pajak, laba usaha badan usaha milik negara, bahkan melalui utang ke negara lain dan rakyat pula yang membayarnya. Uang negara merupakan modal untuk membangun bangsa, baik pendidikan, infrastruktur seperti jalan, jembatan, kesehatan, dan jaringan infrastruktur lainnya. Kalau uang tersebut dikorup, maka pembangunan menjadi korbannya. Misalnya sekolah sulit didirikan karena uangnya menguap.
Memang tak ada resep atau strategi jitu untuk memberantas korupsi. Tapi kalau tidak dicari terbososan untuk menangkal korupsi di masa depan, maka negara ini kian keropos karena generasinya diwarisi watak korupsi oleh pendahulunya
Kasus korupsi memang bisa dikatakan setiap hari muncul baik di televisi maupun surat kabar. Tapi sepertinya tidak semua masyarakat menyadari betapa hebatnya daya rusak korupsi.
Tak sedikit yang menganggap, korupsi itu jadi masalah karena ketahuan atau terbongkar. Dan biasanya, korupsi yang dilakukan seseorang itu terungkap karena ada orang yang membongkarnya. Terus biasanya, orang yang membongkar korupsi seseorang dilandasi sakit hati tak kebagian, atau orang yang mengincar jabatan si pelaku.
Kalau korupsi itu tak ada yang membongkar, dianggapnya tak ada orang lain yang dirugikan. Orang yang ribut menuduh itu dianggapnya karena tak kebagian saja.
Anggapan-anggapan tersebut di antaranya muncul dalam benak seorang siswi SMP. "Pak, kenapa sih orang yang korupsi harus ditangkap dan dipenjara, kan dia tidak merugikan orang lain? Dia kan cuma ngambil duit kantor."
Pertanyaan anak kedua saya itu tentu saja membuat saya terkejut. Bagaimana dia bisa punya asumsi seperti itu?
Ternyata, dalam pengakuannya, anak saya itu sering ngobrol bersama teman-temannya. Dalam perbincangan dengan teman-temannya itu, menurut informasi dari orang tua mereka, korupsi hanyalah pelanggaran memperkaya diri sendiri saja, tapi tidak merugikan orang lain.
Kalau anggapan tersebut hidup dalam benak sebagian besar masyarakat kita, luar biasa berbahaya. Bayangkan, dalam sepuluh generasi pun, korupsi di negara kita akan sulit diberantas.
Celakanya, walaupun tidak pernah ada penelitian tentang benar tidaknya anggapan tersebut hidup dalam benak masyarakat, kalau dilihat dari kasus korupsi yang muncul dan bagaimana reaksi keluarga pelaku yang dituduh korupsi, bisa disebutkan kenyataannya memang seperti yang diperbincangkan anak saya tadi.
Simak saja kasus korupsi yang dilakukan mantan Kabulog Puspoyo Widjanarko. Anggota keluarga bukan saja mendukung secara moral agar pelaku tabah menghadapi cobaan, tapi ikut berjamaah melakukan korupsi. Anak, istri, adik sama-sama sama-sama terlibat. Syaukani saja menggelar hajatan tanpa rasa malu. Kemewahan malah dipamerkan.
Dalam diskusi pencegahan korupsi di Hotel Panghegar setahun lalu, Koordinator ICW Teten Masduki menyatakan, penangkapan dan pengadilan terhadap pelaku korupsi seperti yang dilakukan aparat KPK, memang penting untuk membuat efek jera.
Namun Teten kemudian mengingatkan, jangan lupa, tindakan preventif agar anak cucu kita sadar bahaya korupsi, juga lebih penting. Mengenai caranya, saat itu Teten mengatakan dengan banyak diskusi ke kampus-kampus, komunitas-komunitas lebih kecil, hingga ke pelosok.
Tentu saja cara tersebut tetap perlu dilakukan, namun kalau orientasinya ingin agar anak cucu kita sejak usia dini sadar betapa dahsyatnya bahaya korupsi, tentu tidak cukup dengan diskusi atau seminar. Anak-anak usia dini cepat bosan menyimak diskusi dan seminar.
Salah satu caranya, harus seperti seorang guru mengajarkan pelajaran tersulit, yakni matematika, fisika, atau kimia. Mengajarkannya harus pelan-pelan biar siswa memahami dan caranya harus fun.
Kepada anak usia dini, baik usia taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai SMP bahkan SMA, bahaya korupsi bisa diterangkan dengan ilustrasi paling sederhana oleh orang tuanya di rumah atau guru di sekolah.
Di rumah, orang tua bisa mulai dengan kehidupan di lingkungan rumahnya. Misalnya, seorang ibu yang memiliki tiga anaknya menjelaskan, pengeluaran untuk semua kebutuhan rumah tangga, mulai dari pendidikan, belanja sehari-hari, kesehatan, bayar telepon, listrik dan sebagainya, setiap bulannya menghabiskan Rp 2 juta. Sementara itu penghasilan sang ayah pun sekitar Rp 2 Juta. Artinya, penghasilan ayahnya itu setiap bulannya habis digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Kalau saja dalam satu bulan itu ada uang yang diambil oleh salah satu anggota keluarganya, maka anggaran rumah tangga jadi goncang. Misalnya, sang ayah yang biasanya setor gaji Rp 2 juta, tiba-tiba hanya setor Rp 1,5 juta dengan berbagai alasan. Padahal, uang sebesar Rp 500 ribu itu digunakan oleh sang ayah untuk foya-foya dengan temannya.
Mau tak mau sang ibu sebagai pengatur anggaran keluarga, harus mengorbankan salah satu, misalnya biaya pendidikan anaknya ada yang tertunda. Kalau kemudian biaya pendidikan salah satu anaknya yang tertunda itu sulit ditutupi dan berlarut-larut pada bulan berikutnya, maka sekolah pun mengancam mengeluarkan anak itu. Kalau sampai dikeluarkan, maka kesempatan si anak untuk mendapat pendidikan, lenyap. Akibat lebih jauhnya, si anak kehilangan masa depan. Semua itu akibat korupsi yang dilakukan oleh sang ayah.
Sesuai dengan tingkat perkembangan daya pikirnya, anak-anak yang sudah mulai paham diberi ilustrasi bahaya korupsi di lingkungan rumah tangga, bisa mulai diberikan ilustrasi bagaimana kalau kepala desa, camat, walikota, gubernur, presiden dan wakil rakyat mengkorup uang negara. Mereka harus sadar bahwa uang negara itu adalah uang yang berasal dari rakyat, yakni melalui pajak, laba usaha badan usaha milik negara, bahkan melalui utang ke negara lain dan rakyat pula yang membayarnya. Uang negara merupakan modal untuk membangun bangsa, baik pendidikan, infrastruktur seperti jalan, jembatan, kesehatan, dan jaringan infrastruktur lainnya. Kalau uang tersebut dikorup, maka pembangunan menjadi korbannya. Misalnya sekolah sulit didirikan karena uangnya menguap.
Memang tak ada resep atau strategi jitu untuk memberantas korupsi. Tapi kalau tidak dicari terbososan untuk menangkal korupsi di masa depan, maka negara ini kian keropos karena generasinya diwarisi watak korupsi oleh pendahulunya
Tuesday, September 11, 2007
RENUNGAN HARIAN
Orang yang selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang lain tidak berarti ia selalu berhasil dalam upayanya tersebut. Seringkali bahkan keputusan seseorang di luar dirinya tapi berkaitan dengan dirinya, malah menyakiti orang lain yang justru disayanginya; apakah dia keluarga, teman, rekan sejawat, anak buah bahkan bos.
Di sinilah seseorang dihadapkan pada situasi dilematis. Memang selalu ada nasihat bahwa manusia harus tegar dan berani menghadapi segala situasi. Tapi seringkali juga tidak mudah menyelesaikannya. Orang yang berusaha menghendaki terciptanya harmoni, terkadang situasi lebih sering menyeret pada kondisi sebaliknya. Dalam kondisi demikian manusia akan terukur sejauhmana kematangan dan kedawasaannya.
Di sinilah seseorang dihadapkan pada situasi dilematis. Memang selalu ada nasihat bahwa manusia harus tegar dan berani menghadapi segala situasi. Tapi seringkali juga tidak mudah menyelesaikannya. Orang yang berusaha menghendaki terciptanya harmoni, terkadang situasi lebih sering menyeret pada kondisi sebaliknya. Dalam kondisi demikian manusia akan terukur sejauhmana kematangan dan kedawasaannya.
Sunday, September 9, 2007
Ini Anakku yang ketiga, Zaha Rayatri Aptissimi yang lahir 16 Februari 2007, sedang diasuh sama kakaknya, anakku yang kedua, Selma Mutia Pramanik.
Kisah Seorang Ayah dan Lima Anaknya
DI sebuah keluarga dengan lima anak, seorang ayah mendidik anak-anaknya yang sedang tumbuh dewasa. Keluarga tersebut memelihara berbagai ternak sebagai mata pencaharian mereka.
Suatu hari, anak yang paling besar menjual seekor ayam tanpa sepengetahuan ayahnya dan saudaranya yang lain. Si anak itu kemudian melapor kepada ayahnya, bahwa satu ekor ayamnya hilang diembat pencuri.
Ayahnya kemudian memerintahkan kepada semua anaknya, carilah pencurinya sampai ketemu. Namun tak seorang pun di antara kelima anaknya yang bisa memenuhi perintah ayahnya. Walhasil, si pencuri ayam tak ketemu dan si anak pertama merasa aman, karena memang tak satu pun saudaranya yang mengetahui ulahnya.
Sebulan kemudian, keluarga itu kehilangan satu ekor kambing. Kali ini tak seorang pun di antara kelima anak itu yang mencuri Kambing. Walhasil, kambing itu memang dicuri oleh orang lain.
Kemudian, di benak anak pertama tumbuh kecurigaan terhadap keempat bersaudaranya. Ia berpikir, di antara adik-adiknya pasti melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat mencuri ayam. Tapi ia tak bisa sembarangan menuduh karena tak punya bukti. Hanya dalam benaknya saja terus hidup penuh kecurigaan pada saudaranya.
Kelima bersauadara itu kemudian melapor kepada ayahnya. Dengan dingin namun suaranya tegas, sang ayah memerintahkan kepada lima anakna.
"Carilah pencuri ayam sampai ketemu," perintahnya.
"Pak, sekarang yang hilang kambing," timpal anaknya yang pertama.
"Sekali lagi saya katakan, carilah pencuri ayam itu," kata ayahnya.
Keempat anaknya juga heran dengan jawaban ayah mereka. Giliran mereka mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan anak yang pertama.
"Sungguh Pak, sekarang yang hilang seekor kambing, bukan lagi ayam."
Ayahnya dengan geram dan mata melotot membentak, "Saya sudah tahu. Makanya kalian berlima harus bisa menemukan pencuri ayam. Kalian berlima anak bodoh!"
Kisah tersebut ditulis oleh Thomas Freidman, wartawan New York Times keturunan Yahudi saat meliput konflik Timur Tengah. Freidman sedang menceritakan sebuah keluarga di Libanon yang terus dicekam perang saudara tanpa berkesudahan.
Kisah tadi selalu saya ingat ketika persoalan di negeri kita seakan terus berulang. Persoalan yang terus menimpa kita sepintas memang seperti hal baru, mungkin karena bentuknya saja, tapi substansinya sebetulnya persoalan lama yang terus berulang.
Karena seperti kelima anak tadi, yakni tak mampu mengungkap dan menuntaskan persoalan sejak awal, makanya bangsa kita seperti limbung ketika ditimpa persoalan. Bukan penyelesaian atau solusi yang ditemukan, melainkan mengembangkan sikap penuh curiga dan saling mencari kambing hitam.
Rentetan kejadian seperti polisi menembak sesama polisi, menembak istri, atau orang lain, hingga menembak bosnya sendiri, lalu polisi bunuh diri, dan yang tragis warga sipil yang lewat di jalan tewas karena peluru nyasar, selalu saja berulang-ulang.
Begitu pula wakil rakyat dan pejabat melakukan korupsi, bukan hal yang baru. Dari rejim ke rejim selalu berulang. Yang juga sedang terus ulang adalah seorang ibu membunuh anaknya, mulai dari kasus Aniq Qoriah yang membekap tiga anaknya sampai mati, lalu Mercy di Jawa Timur yang meracuni empat anaknya, juga sampai mati.
Jangan dikira rentetan kejadian yang mengerikan dan mengusik rasa kemanusiaan itu berdiri sendiri. Itu semua pasti ada pangkal persoalannya yang membuat polisi atau seorang ibu nekat. Mungkin mereka sudah buntu menemukan keadilan akhirnya gelap mata dan tak ada lagi seseorang yang bisa diajak berkomunikasi.
Begitu pula, seorang wakil rakyat dan pejabat tetap tanpa rasa malu merampok uang negara yang nota bene uang rakyat, itu juga bermula dari ketidaktegasan aparat hukum menegakkan hukum. Mereka merasa nyaman melakukan korupsi karena aparat hukumnya juga rapuh, mudah dibeli. Sekalinya rejim sekarang bertekad ingin memberantas kasus korupsi, mereka melakukan perlawanan karena dari semula para koruptor selalu dimanjakan alias tak pernah tersentuh hukum. Mana mungkin kasus korupsi di Indonesia bisa tuntas sepanjang kasus Soeharto saja terus menggantung dan yang terjadi malah polemik yang makin menjauh dari upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
Kita mungkin akan seperti ayah lima anak tadi. Esok atau lusa akan menerima laporan lagi ada ternak yang hilang. Esok hari, atau lusa, kita mungkin sudah tak terkejut lagi begitu mendengar pejabat atau wakil rakyat korupsi lagi, polisi menembak dirinya atau malah anaknya, ibu membakar anaknya, karena kita tak pernah mau mencari pangkal persoalannya hingga ketemu akar masalahnya.
Mungkin kita harus menerapkan resep dari Ram Charan. Bangsa kita membutuhkan orang-orang yang mampu melihat persoalan dari lanskap ketinggian, lalu terjun ke bawah untuk memilah dan memilih persoalan untuk segara diatasi dan dituntaskan setuntas-tuntasnya. *
Tribun Jabar, Sabtu 18 Maret 2007
Suatu hari, anak yang paling besar menjual seekor ayam tanpa sepengetahuan ayahnya dan saudaranya yang lain. Si anak itu kemudian melapor kepada ayahnya, bahwa satu ekor ayamnya hilang diembat pencuri.
Ayahnya kemudian memerintahkan kepada semua anaknya, carilah pencurinya sampai ketemu. Namun tak seorang pun di antara kelima anaknya yang bisa memenuhi perintah ayahnya. Walhasil, si pencuri ayam tak ketemu dan si anak pertama merasa aman, karena memang tak satu pun saudaranya yang mengetahui ulahnya.
Sebulan kemudian, keluarga itu kehilangan satu ekor kambing. Kali ini tak seorang pun di antara kelima anak itu yang mencuri Kambing. Walhasil, kambing itu memang dicuri oleh orang lain.
Kemudian, di benak anak pertama tumbuh kecurigaan terhadap keempat bersaudaranya. Ia berpikir, di antara adik-adiknya pasti melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat mencuri ayam. Tapi ia tak bisa sembarangan menuduh karena tak punya bukti. Hanya dalam benaknya saja terus hidup penuh kecurigaan pada saudaranya.
Kelima bersauadara itu kemudian melapor kepada ayahnya. Dengan dingin namun suaranya tegas, sang ayah memerintahkan kepada lima anakna.
"Carilah pencuri ayam sampai ketemu," perintahnya.
"Pak, sekarang yang hilang kambing," timpal anaknya yang pertama.
"Sekali lagi saya katakan, carilah pencuri ayam itu," kata ayahnya.
Keempat anaknya juga heran dengan jawaban ayah mereka. Giliran mereka mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan anak yang pertama.
"Sungguh Pak, sekarang yang hilang seekor kambing, bukan lagi ayam."
Ayahnya dengan geram dan mata melotot membentak, "Saya sudah tahu. Makanya kalian berlima harus bisa menemukan pencuri ayam. Kalian berlima anak bodoh!"
Kisah tersebut ditulis oleh Thomas Freidman, wartawan New York Times keturunan Yahudi saat meliput konflik Timur Tengah. Freidman sedang menceritakan sebuah keluarga di Libanon yang terus dicekam perang saudara tanpa berkesudahan.
Kisah tadi selalu saya ingat ketika persoalan di negeri kita seakan terus berulang. Persoalan yang terus menimpa kita sepintas memang seperti hal baru, mungkin karena bentuknya saja, tapi substansinya sebetulnya persoalan lama yang terus berulang.
Karena seperti kelima anak tadi, yakni tak mampu mengungkap dan menuntaskan persoalan sejak awal, makanya bangsa kita seperti limbung ketika ditimpa persoalan. Bukan penyelesaian atau solusi yang ditemukan, melainkan mengembangkan sikap penuh curiga dan saling mencari kambing hitam.
Rentetan kejadian seperti polisi menembak sesama polisi, menembak istri, atau orang lain, hingga menembak bosnya sendiri, lalu polisi bunuh diri, dan yang tragis warga sipil yang lewat di jalan tewas karena peluru nyasar, selalu saja berulang-ulang.
Begitu pula wakil rakyat dan pejabat melakukan korupsi, bukan hal yang baru. Dari rejim ke rejim selalu berulang. Yang juga sedang terus ulang adalah seorang ibu membunuh anaknya, mulai dari kasus Aniq Qoriah yang membekap tiga anaknya sampai mati, lalu Mercy di Jawa Timur yang meracuni empat anaknya, juga sampai mati.
Jangan dikira rentetan kejadian yang mengerikan dan mengusik rasa kemanusiaan itu berdiri sendiri. Itu semua pasti ada pangkal persoalannya yang membuat polisi atau seorang ibu nekat. Mungkin mereka sudah buntu menemukan keadilan akhirnya gelap mata dan tak ada lagi seseorang yang bisa diajak berkomunikasi.
Begitu pula, seorang wakil rakyat dan pejabat tetap tanpa rasa malu merampok uang negara yang nota bene uang rakyat, itu juga bermula dari ketidaktegasan aparat hukum menegakkan hukum. Mereka merasa nyaman melakukan korupsi karena aparat hukumnya juga rapuh, mudah dibeli. Sekalinya rejim sekarang bertekad ingin memberantas kasus korupsi, mereka melakukan perlawanan karena dari semula para koruptor selalu dimanjakan alias tak pernah tersentuh hukum. Mana mungkin kasus korupsi di Indonesia bisa tuntas sepanjang kasus Soeharto saja terus menggantung dan yang terjadi malah polemik yang makin menjauh dari upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
Kita mungkin akan seperti ayah lima anak tadi. Esok atau lusa akan menerima laporan lagi ada ternak yang hilang. Esok hari, atau lusa, kita mungkin sudah tak terkejut lagi begitu mendengar pejabat atau wakil rakyat korupsi lagi, polisi menembak dirinya atau malah anaknya, ibu membakar anaknya, karena kita tak pernah mau mencari pangkal persoalannya hingga ketemu akar masalahnya.
Mungkin kita harus menerapkan resep dari Ram Charan. Bangsa kita membutuhkan orang-orang yang mampu melihat persoalan dari lanskap ketinggian, lalu terjun ke bawah untuk memilah dan memilih persoalan untuk segara diatasi dan dituntaskan setuntas-tuntasnya. *
Tribun Jabar, Sabtu 18 Maret 2007
Friday, September 7, 2007
Pendidikan yang Memerdekakan
HARI Rabu (15/8) lalu saya menghadiri undangan sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung. Dalam kesempatan itu, tiga perguruan tinggi memaparkan peran dan rencana strategis masa depannya. Dua perguruan tinggi di antaranya dari Malaysia dan Amerika Serikat, yang statusnya negeri. Kedua perguruan tinggi itu memang menjalin program kerjasama dengan perguruan tinggi dari Bandung itu.
Cukup menarik. Bukan karena sinerginya ketiga perguruan tinggi tersebut, tapi karena terjadi diskusi dengan para orangtua mahasiswa. Dari diskusi yang dipaparkan oleh ketiga rektor itu, paling tidak saya bisa menangkap visi ketiga perguruan tinggi itu.
Misalnya saat salah satu orang tua mahasiswa bertanya, apakah ketiga perguruan tinggi itu bisa menyalurkan mahasiswanya ke perusahaan-perusahaan? Alasannya, kata si penanya, sekarang ini, lulusan perguruan tinggi sangat sulit mendapat pekerjaan.
Pertanyaan seperti itu memang klise. Tapi harus diakui cara berpikir itu memang hidup dalam benak masyarakat kita, bahwa sekolah seakan-akan alat untuk mendapatkan pekerjaan.
Bagaimana sang rektor menjawab? "Perguruan tinggi kami tidak menjanjikan kepada para mahasiswanya untuk mendapatkan pekerjaan. Kami hanya sekadar membantu dengan mendidik serta mendapatkan ilmu agar memudahkan para mahasiswa menciptakan atau mendapatkan pekerjaan."
Jawaban sang rekrot bagi saya cukup melegakan. Sebaliknya mungkin bagi orang tua yang orientasinya menyekolahkan anak dengan tujuan mencari pekerjaan, seperti si penanya tadi, pasti akan kecewa. Sang rektor pun tak ingin memuaskan jawaban si penanya dengan berpura-pura bahwa lulusan perguruan tingginya laku di pasaran, atau punya link dengan perusahaan-perusahaan.
Jawaban rektor itu tentu saja bukan berarti lulusannya tidak kapabel di lapangan pekerjaan. Justru letak persoalannya, manusia yang sudah lulus dari perguruan tinggi harus bisa menolong dirinya dan orang lain.
Saya cukup puas dengan jawaban sang rektor. Di tengah maraknya perguruan tinggi swasta yang menjanjikan bisa menyalurkan mahasiswanya ke perusahaan untuk bekerja, masih ada perguruan tinggi yang orientasinya mendidik lulusannya menjadi manusia mandiri.
Pola berpikir masyarakat yang menggantungkan anaknya kepada lembaga pendidikan agar langsung mendapat pekerjaan, menunjukkan salah kaprah dalam melihat proses pendidikan. Kalau orientasinya ke arah mendapat pekerjaan, maka setelah menyelesaikan pendidikannya, sang alumnus akan mati-matian mencari pekerjaan dan merebut posisi atau jabatan. Kalau tidak memperolehnya, hinggaplah rasa fustrtasi.
Sejatinya, lembaga pendidikan melahirkan manusia yang mandiri. Manusia mandiri tentu saja bukan hanya bisa menolong dirinya, tapi juga menolong orang lain. Kalau sebuah lembaga pendidikan menggembleng anak didiknya untuk mandiri, maka yang tertanam di benak anak didiknya juga bukan semata-mata bagaimana caranya mendapat pekerjaan, tapi bagaimana menciptakan pekerjaan.
Ketika cara berpikir ini sudah tertanam, maka konsekuensinya butuh ilmu, keterampilan, kegigihan, disiplin, dan membangun jaringan yang luas. Semua itu tentu hanya bisa diperoleh dengan belajar, belajar, dan belajar. Kesadaran-kesadaran ini pun pada akhirnya bukan lagi hanya jadi wacana, tapi melekat dalam dirinya. Membentuk karakter. Maka sikapnya pun selalu merasa kurang dan selalu ingin berubah.
Sayangnya, di alam kemerdekaan, di mana kita selalu memperingatinya tiap tahun, alam pikir sebagian masyarakat kita masih belum merdeka. Penyebabnya karena selama ini lembaga pendidikan, baik dasar, menengah, atas dan tinggi sekalipun, tidak memerdekakan cara berpikir anak didiknya, bahkan sebaliknya membunuh. Perguruan tinggi pun malah lebih banyak yang menjanjikan angin surga dengan menyalurkan anak didik ke perusahaan-perusahaan.
Tribun Jabar, 17 Agustus 2007
Cukup menarik. Bukan karena sinerginya ketiga perguruan tinggi tersebut, tapi karena terjadi diskusi dengan para orangtua mahasiswa. Dari diskusi yang dipaparkan oleh ketiga rektor itu, paling tidak saya bisa menangkap visi ketiga perguruan tinggi itu.
Misalnya saat salah satu orang tua mahasiswa bertanya, apakah ketiga perguruan tinggi itu bisa menyalurkan mahasiswanya ke perusahaan-perusahaan? Alasannya, kata si penanya, sekarang ini, lulusan perguruan tinggi sangat sulit mendapat pekerjaan.
Pertanyaan seperti itu memang klise. Tapi harus diakui cara berpikir itu memang hidup dalam benak masyarakat kita, bahwa sekolah seakan-akan alat untuk mendapatkan pekerjaan.
Bagaimana sang rektor menjawab? "Perguruan tinggi kami tidak menjanjikan kepada para mahasiswanya untuk mendapatkan pekerjaan. Kami hanya sekadar membantu dengan mendidik serta mendapatkan ilmu agar memudahkan para mahasiswa menciptakan atau mendapatkan pekerjaan."
Jawaban sang rekrot bagi saya cukup melegakan. Sebaliknya mungkin bagi orang tua yang orientasinya menyekolahkan anak dengan tujuan mencari pekerjaan, seperti si penanya tadi, pasti akan kecewa. Sang rektor pun tak ingin memuaskan jawaban si penanya dengan berpura-pura bahwa lulusan perguruan tingginya laku di pasaran, atau punya link dengan perusahaan-perusahaan.
Jawaban rektor itu tentu saja bukan berarti lulusannya tidak kapabel di lapangan pekerjaan. Justru letak persoalannya, manusia yang sudah lulus dari perguruan tinggi harus bisa menolong dirinya dan orang lain.
Saya cukup puas dengan jawaban sang rektor. Di tengah maraknya perguruan tinggi swasta yang menjanjikan bisa menyalurkan mahasiswanya ke perusahaan untuk bekerja, masih ada perguruan tinggi yang orientasinya mendidik lulusannya menjadi manusia mandiri.
Pola berpikir masyarakat yang menggantungkan anaknya kepada lembaga pendidikan agar langsung mendapat pekerjaan, menunjukkan salah kaprah dalam melihat proses pendidikan. Kalau orientasinya ke arah mendapat pekerjaan, maka setelah menyelesaikan pendidikannya, sang alumnus akan mati-matian mencari pekerjaan dan merebut posisi atau jabatan. Kalau tidak memperolehnya, hinggaplah rasa fustrtasi.
Sejatinya, lembaga pendidikan melahirkan manusia yang mandiri. Manusia mandiri tentu saja bukan hanya bisa menolong dirinya, tapi juga menolong orang lain. Kalau sebuah lembaga pendidikan menggembleng anak didiknya untuk mandiri, maka yang tertanam di benak anak didiknya juga bukan semata-mata bagaimana caranya mendapat pekerjaan, tapi bagaimana menciptakan pekerjaan.
Ketika cara berpikir ini sudah tertanam, maka konsekuensinya butuh ilmu, keterampilan, kegigihan, disiplin, dan membangun jaringan yang luas. Semua itu tentu hanya bisa diperoleh dengan belajar, belajar, dan belajar. Kesadaran-kesadaran ini pun pada akhirnya bukan lagi hanya jadi wacana, tapi melekat dalam dirinya. Membentuk karakter. Maka sikapnya pun selalu merasa kurang dan selalu ingin berubah.
Sayangnya, di alam kemerdekaan, di mana kita selalu memperingatinya tiap tahun, alam pikir sebagian masyarakat kita masih belum merdeka. Penyebabnya karena selama ini lembaga pendidikan, baik dasar, menengah, atas dan tinggi sekalipun, tidak memerdekakan cara berpikir anak didiknya, bahkan sebaliknya membunuh. Perguruan tinggi pun malah lebih banyak yang menjanjikan angin surga dengan menyalurkan anak didik ke perusahaan-perusahaan.
Tribun Jabar, 17 Agustus 2007
Megah dan Gagah tapi Rapuh
SEBAGAI orang yang dilahirkan di kampung, saya selalu terpesona kalau melihat kota. Tak usah jauh-jauh ke kota di penjuru tanah air, apalagi di luar negeri. Sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bandung saja, saya takjub. Terpesona. Apalagi sewaktu pertama kali ke Jakarta. Gedung-gedung megah, seakan berlomba paling kuasa dan ingin setara langit. Jalan layang pun saling melintang. Itulah dinamika pembangunan.
Tapi itu puluhan tahun lalu, saat masih ingusan. Sekarang, memang masih juga terpana. Tapi bukan terpesona, melainkan ngangres, alias prihatin. Kalau dipikir-pikir, secara kasat mata, kita ini megah, tapi sebenarnya rapuh.
Coba saja peristiwa renungkan periswa mobil Honda Jazz yang jatuh dari lantai tujuh gedung parkir Pertokoan ITC Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis, 17 Mei 2007. Satu keluarga terenggut nyawanya. Boleh-boleh saja muniding pengendara kurang mahir mengendarai mobil sehingga menabrak dinding. Tapi kalau saja dindingnya kuat, tak akan sampai menelan korban. Bukankah pertokoan itu megah?
Ya, megah secara kasat mata. Secara lahir. Sebagai kemasan agar banyak menarik pengunjung. Kenyataannya gedung itu rapuh. Itu juga menunjukkan manajemen yang membangun gedung itu rapuh, tidak hati-hati, tidak memikirkan keselamatan manusia.
Apakah bangsa dan negara kita megah? Tak ada yang menampik. Bangsa lain pun mengakui kalau kita sebagai bangsa yang megah. Mereka iri dengan tanah air kita yang kaya, budaya yang aneka ragam, juga kekayaan laut dan hutannya.
Apa yang bisa kita petik dari kemegahan itu? Kekayaan alam direguk bangsa lain karena kita tak mampu mengolahnya. Yang menyedihkan, kekayaan budaya, yang sudah jelas-jelas hasil daya cipta anak bangsa kita, hak patennya diambil bangsa lain. Contoh kecil seni angklung dan makanan tempe. Angklung hak patennya mau diambil Malaysia, tempe malah sudah jadi hak paten Jepang. Betul-betul prihatin.
Kalau melihat jenderal, sungguh gagah. Dengan seragam dan tanda bintang di pundak, kalau pidato sering menunjukkan wibawanya. Apalagi kalau sedang menenteng senjata. Tapi, sungguh rapuh ketika ingin berpartisipasi dalam politik. Di Pilkada DKI, berapa jendral yang mengaku dipalak partai dengan iming-iming akan dijadikan kandidat Gubernur DKI. Uang miliaran pun digelontorkan. Ketika partai akhirnya memilih Prijanto, mereka marah. Sakit hati. Merasa ditipu mentah-mentah. Lalu uring-uringan minta uang kembali. Bukankah jenderal itu gagah? Ya, seragamnya, tapi rapuh ketika melihat kekuasaan. Berwibawa tapi cengeng ketika uangnya tak kembali.
Partai pun, baik yang mengaku sebagai partai besar atau pun yang nyata-nyata cuma jadi partai gurem, kalau lagi mengerahkan massa seakan terlihat paling megah dan paling berkuasa. Para tokohnya, kalau ngomong seakan paling benar dan palin bijak. Tapi ketika anggotanya terlibat kasus korupsi, petinggi partai panik dan guyub untuk melakukan perlawanan terhadap proses hukum. Mereka yang biasanya sok bijak, ketika dihadapkan pada uang, mendadak diam. Mereka yang biasanya sok gagah, ketika dihadapkan pada kasus hukum, mendadak blingsatan. Itulah yang terjadi pada beberapa partai di Jawa Barat yang anggotanya sedang terjerat kasus kavlinggate. Mereka menggelar pertemuan di hotel untuk sesuatu yang konyol dan tidak terpuji. Hmmmmmmhhh.........mereka yang sok gagah itu sebenarnya rapuh sekali.*
Tribun Jabar, 17 Juni 2007
Tapi itu puluhan tahun lalu, saat masih ingusan. Sekarang, memang masih juga terpana. Tapi bukan terpesona, melainkan ngangres, alias prihatin. Kalau dipikir-pikir, secara kasat mata, kita ini megah, tapi sebenarnya rapuh.
Coba saja peristiwa renungkan periswa mobil Honda Jazz yang jatuh dari lantai tujuh gedung parkir Pertokoan ITC Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis, 17 Mei 2007. Satu keluarga terenggut nyawanya. Boleh-boleh saja muniding pengendara kurang mahir mengendarai mobil sehingga menabrak dinding. Tapi kalau saja dindingnya kuat, tak akan sampai menelan korban. Bukankah pertokoan itu megah?
Ya, megah secara kasat mata. Secara lahir. Sebagai kemasan agar banyak menarik pengunjung. Kenyataannya gedung itu rapuh. Itu juga menunjukkan manajemen yang membangun gedung itu rapuh, tidak hati-hati, tidak memikirkan keselamatan manusia.
Apakah bangsa dan negara kita megah? Tak ada yang menampik. Bangsa lain pun mengakui kalau kita sebagai bangsa yang megah. Mereka iri dengan tanah air kita yang kaya, budaya yang aneka ragam, juga kekayaan laut dan hutannya.
Apa yang bisa kita petik dari kemegahan itu? Kekayaan alam direguk bangsa lain karena kita tak mampu mengolahnya. Yang menyedihkan, kekayaan budaya, yang sudah jelas-jelas hasil daya cipta anak bangsa kita, hak patennya diambil bangsa lain. Contoh kecil seni angklung dan makanan tempe. Angklung hak patennya mau diambil Malaysia, tempe malah sudah jadi hak paten Jepang. Betul-betul prihatin.
Kalau melihat jenderal, sungguh gagah. Dengan seragam dan tanda bintang di pundak, kalau pidato sering menunjukkan wibawanya. Apalagi kalau sedang menenteng senjata. Tapi, sungguh rapuh ketika ingin berpartisipasi dalam politik. Di Pilkada DKI, berapa jendral yang mengaku dipalak partai dengan iming-iming akan dijadikan kandidat Gubernur DKI. Uang miliaran pun digelontorkan. Ketika partai akhirnya memilih Prijanto, mereka marah. Sakit hati. Merasa ditipu mentah-mentah. Lalu uring-uringan minta uang kembali. Bukankah jenderal itu gagah? Ya, seragamnya, tapi rapuh ketika melihat kekuasaan. Berwibawa tapi cengeng ketika uangnya tak kembali.
Partai pun, baik yang mengaku sebagai partai besar atau pun yang nyata-nyata cuma jadi partai gurem, kalau lagi mengerahkan massa seakan terlihat paling megah dan paling berkuasa. Para tokohnya, kalau ngomong seakan paling benar dan palin bijak. Tapi ketika anggotanya terlibat kasus korupsi, petinggi partai panik dan guyub untuk melakukan perlawanan terhadap proses hukum. Mereka yang biasanya sok bijak, ketika dihadapkan pada uang, mendadak diam. Mereka yang biasanya sok gagah, ketika dihadapkan pada kasus hukum, mendadak blingsatan. Itulah yang terjadi pada beberapa partai di Jawa Barat yang anggotanya sedang terjerat kasus kavlinggate. Mereka menggelar pertemuan di hotel untuk sesuatu yang konyol dan tidak terpuji. Hmmmmmmhhh.........mereka yang sok gagah itu sebenarnya rapuh sekali.*
Tribun Jabar, 17 Juni 2007
Orang Sunda Menunggu "Kalangkang Heulang"
Orang Sunda Menunggu "Kalangkang Heulang"
Tidak adanya orang Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat nasional lama hidup dalam pikiran sebagian tokoh-tokoh-elite-Sunda. Bahkan dua tahun lalu, menjelang Pemilihan Umum 2004, sempat menjadi wacana yang cukup hangat hingga didiskusikan oleh sebuah media massa. Rosihan Anwar pun ikut urun rembuk.
Saya tidak mau menyebut pikiran tersebut hidup di masyarakat Sunda karena tidak semua orang Sunda dihantui atau terjebak pikiran tersebut. Fakta menunjukkan, Agum Gumelar, yang menjadi calon Wakil Presiden berpasangan dengan Ketua Umum PPP Hamzah Haz dan didukung para elite Sunda, terjungkal di babak pertama dalam Pemilu 2004. Hal itu menunjukkan obsesi para elite Sunda tidak menjadi representasi masyarakat Sunda yang bermukim di Jawa Barat.
Alasan mengapa obsesi tersebut hidup dan dipelihara terus hingga kini, antara lain karena kepemimpinan nasional yang didominasi tokoh- tokoh dari etnis di luar Sunda, terutama Jawa. Keterwakilan orang Sunda di DPRD Jawa Barat sangat minim. Pembangunan di Jawa Barat tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain, seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, bahkan Kalimantan Timur. Gambaran Jawa Barat tertinggal oleh provinsi lain sempat diungkapkan Yayat Hendayana, seorang seniman dan wartawan senior Jawa Barat.
Adapun beberapa alasan lainnya, antara lain dipicu ketidakpuasan terhadap politisi Sunda yang tak berdaya saat duduk sebagai wakil rakyat. Selain itu, tidak ada birokrat Sunda yang visioner, seperti pernah ditunjukkan Ali Sadikin, ditambah lagi keberadaan organisasi Sunda yang sudah kehilangan visi dalam mengader calon- calon pemimpin. Jika dulu Paguyuban Pasundan pernah melahirkan tokoh sekaliber Otto Iskandardinata, sekarang organisasi itu hanya menjadi penampungan pejabat dan para pensiunan.
Tak heran kalau kegundahan atau obsesi para elite Sunda ini pernah dengan cerdik terbaca oleh Hamzah Haz. Usai memperingati Maulid Nabi di kediamannya di Jalan Tegalan, Jakarta Timur, (Sabtu, 15 Mei 2004), Hamzah mengeluarkan pernyataan pers yang saat itu memang tengah ditunggu-tunggu wartawan.
"Anda kan tahu, kurang lebih hampir selama 15 tahun terakhir ini tidak ada satu pejabat tinggi negara yang berasal dari Jawa Barat. Makanya, kita kemudian tetapkan Pak Agum Gumelar sebagai calon Wakil Presiden."
Bagi sebagian tokoh Sunda yang memelihara obsesi tadi, pernyataan Hamzah akan menghibur. Padahal, obsesi yang merindukan pemimpin nasional dari tokoh Sunda hanya menunjukkan bagaimana inferiornya tokoh-tokoh Sunda. Sebab, fakta menunjukkan, obsesi para elite Sunda, dan siasat Hamzah Haz menggaet Agum Gumelar dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2004 di Jawa Barat menghasilkan perolehan suara yang mengakibatkan mayoritas orang Sunda bertepuk sebelah tangan. Suara Hamzah dan Agum paling buncit, masih kalah dengan perolehan suara Amien Rais- Siswono, apalagi dengan Susilo Bambang Yudhoyono-Kalla, Mega-Hasyim, dan Wiranto-Solahudin.
Tak terusik korupsi
Di sisi lain, elite Sunda dan beberapa organisasi Sunda anehnya sama sekali seperti tak terusik oleh persoalan korupsi yang merebak di Jawa Barat. Yang paling menggegerkan adalah kasus korupsi kolektif yang melibatkan anggota DPRD Jawa Barat periode 1999-2004, yang dikenal dengan skandal dana kavling (kavling gate). Skandal korupsi yang mencapai Rp 32 miliar itu baru memvonis bersalah satu orang, yakni Kurdi Moekri. Itu pun tidak dieksekusi. Proses hukum hingga kini memang masih berjalan, tapi tak ubahnya seperti telenovela, saling tuduh antara tersangka yang mantan anggota DPRD Jabar dan eksekutif atau mantan Gubernur Jabar sebagai saksi.
Kenyataan ini ironis bila dibandingkan dengan provinsi lain. Di Sumatera Barat (Sumbar), kasus korupsi anggota DPRD Sumbar sudah tuntas, dan vonis bersalah sudah dijatuhkan, serta kini dalam upaya eksekusi. Yang patut dicatat, sukses Kejaksaan Tinggi Sumbar menyeret anggota DPRD Sumbar bukan semata-mata keringat aparat, melainkan berkat tekanan seluruh elemen masyarakat di Sumbar yang tergabung dalam Forum Peduli Sumatera Barat (FPSB).
Di Jawa Barat, jika aparat hukum menunggu partisipasi masyarakat dalam memberantas korupsi, jangan harap korupsi akan lenyap. Mental elite Sunda cenderung bermental serab, menghargai orang dilihat dari status sosial dan jabatannya. Mental inilah yang menjadi faktor penghambat pemberantasan korupsi di Jabar.
Di lingkungan elite Sunda, orang yang menyandang jabatan struktural di pemerintahan bisa langsung dijungjung lungguh (ditempatkan) sebagai tokoh, seperti di organisasi Paguyuban Pasundan. Mereka yang menjadi dewan pangaping adalah orang-orang yang memiliki jabatan, atau pernah memiliki jabatan, seperti mantan menteri, mantan gubernur, mantan anggota DPR. Adapun orang-orang yang memiliki integritas, seperti Teten Masduki (ICW), Hendardi (PBHI)-walaupun orang Sunda-dilihat sebelah mata.
Dengan mental seperti ini, saya tak heran mengapa banyak elite Sunda terobsesi oleh kemunculan orang Sunda yang menjadi pemimpin nasional. Mental seperti ini jelas merugikan, baik bagi masyarakat Sunda sendiri, maupun bagi orang yang dijungjung lungguhnya.
Bakal tergilas
Jika era demokrasi di Tanah Air berjalan mulus, masyarakat Sunda akan tergilas seandainya elitenya mempertahankan mental serab terhadap orang yang memiliki jabatan struktural di pemerintahan, bukan berdasarkan prestasi dan track record-nya di bidang civil society.
Kerugian pun ada di pihak orang yang dijungjung lungguhnya. Kualitas sang tokoh tak akan terlihat karena biasnya penglihatan orang-orang yang ngajungjung lungguhnya. Misalnya, belum tentu Ali Sadikin jadi gubernur fenomenal seandainya ia jadi Gubernur Jabar saat itu. Dan, tak mustahil Agum Gumelar yang kini ikut jadi kandidat Gubernur DKI mengikuti jejak Ali Sadikin.
Bahaya lainnya, elite Sunda bisa frustrasi karena mengharapkan munculnya pemimpin nasional tanpa melalui proses pengaderan calon- calon pemimpin yang tangguh, baik melalui organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi partai politik. Ini sama saja dengan menunggu kalangkang heulang (sesuatu yang mustahil terlaksana).
Salah satu cara jika elite Sunda ingin menunjukkan kualitasnya, tunjukkan kepedulian untuk ikut menegakkan hukum di Jawa Barat, seperti yang dilakukan masyarakat Minang. Kepedulian inilah yang menjadi ukuran sejauh mana mental dan moral masyarakat Sunda, bukan kepada jumlah orang Sunda yang duduk di DPRD Jabar, atau yang jadi pemimpin nasional.
Dari sikap, komitmen, dan kepedulian ini siapa tahu kelak lahir calon pemimpin yang lahir dari rahim masyarakat. Dengan demikian, semoga mendambakan orang Sunda menjadi calon pemimpin nasional sekaligus berupaya ikut membumihanguskan korupsi tidak lagi sekadar menunggu kalangkang heulang.
Komas Jabar, Sabtu 15 Juli 2006
Tidak adanya orang Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat nasional lama hidup dalam pikiran sebagian tokoh-tokoh-elite-Sunda. Bahkan dua tahun lalu, menjelang Pemilihan Umum 2004, sempat menjadi wacana yang cukup hangat hingga didiskusikan oleh sebuah media massa. Rosihan Anwar pun ikut urun rembuk.
Saya tidak mau menyebut pikiran tersebut hidup di masyarakat Sunda karena tidak semua orang Sunda dihantui atau terjebak pikiran tersebut. Fakta menunjukkan, Agum Gumelar, yang menjadi calon Wakil Presiden berpasangan dengan Ketua Umum PPP Hamzah Haz dan didukung para elite Sunda, terjungkal di babak pertama dalam Pemilu 2004. Hal itu menunjukkan obsesi para elite Sunda tidak menjadi representasi masyarakat Sunda yang bermukim di Jawa Barat.
Alasan mengapa obsesi tersebut hidup dan dipelihara terus hingga kini, antara lain karena kepemimpinan nasional yang didominasi tokoh- tokoh dari etnis di luar Sunda, terutama Jawa. Keterwakilan orang Sunda di DPRD Jawa Barat sangat minim. Pembangunan di Jawa Barat tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain, seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, bahkan Kalimantan Timur. Gambaran Jawa Barat tertinggal oleh provinsi lain sempat diungkapkan Yayat Hendayana, seorang seniman dan wartawan senior Jawa Barat.
Adapun beberapa alasan lainnya, antara lain dipicu ketidakpuasan terhadap politisi Sunda yang tak berdaya saat duduk sebagai wakil rakyat. Selain itu, tidak ada birokrat Sunda yang visioner, seperti pernah ditunjukkan Ali Sadikin, ditambah lagi keberadaan organisasi Sunda yang sudah kehilangan visi dalam mengader calon- calon pemimpin. Jika dulu Paguyuban Pasundan pernah melahirkan tokoh sekaliber Otto Iskandardinata, sekarang organisasi itu hanya menjadi penampungan pejabat dan para pensiunan.
Tak heran kalau kegundahan atau obsesi para elite Sunda ini pernah dengan cerdik terbaca oleh Hamzah Haz. Usai memperingati Maulid Nabi di kediamannya di Jalan Tegalan, Jakarta Timur, (Sabtu, 15 Mei 2004), Hamzah mengeluarkan pernyataan pers yang saat itu memang tengah ditunggu-tunggu wartawan.
"Anda kan tahu, kurang lebih hampir selama 15 tahun terakhir ini tidak ada satu pejabat tinggi negara yang berasal dari Jawa Barat. Makanya, kita kemudian tetapkan Pak Agum Gumelar sebagai calon Wakil Presiden."
Bagi sebagian tokoh Sunda yang memelihara obsesi tadi, pernyataan Hamzah akan menghibur. Padahal, obsesi yang merindukan pemimpin nasional dari tokoh Sunda hanya menunjukkan bagaimana inferiornya tokoh-tokoh Sunda. Sebab, fakta menunjukkan, obsesi para elite Sunda, dan siasat Hamzah Haz menggaet Agum Gumelar dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2004 di Jawa Barat menghasilkan perolehan suara yang mengakibatkan mayoritas orang Sunda bertepuk sebelah tangan. Suara Hamzah dan Agum paling buncit, masih kalah dengan perolehan suara Amien Rais- Siswono, apalagi dengan Susilo Bambang Yudhoyono-Kalla, Mega-Hasyim, dan Wiranto-Solahudin.
Tak terusik korupsi
Di sisi lain, elite Sunda dan beberapa organisasi Sunda anehnya sama sekali seperti tak terusik oleh persoalan korupsi yang merebak di Jawa Barat. Yang paling menggegerkan adalah kasus korupsi kolektif yang melibatkan anggota DPRD Jawa Barat periode 1999-2004, yang dikenal dengan skandal dana kavling (kavling gate). Skandal korupsi yang mencapai Rp 32 miliar itu baru memvonis bersalah satu orang, yakni Kurdi Moekri. Itu pun tidak dieksekusi. Proses hukum hingga kini memang masih berjalan, tapi tak ubahnya seperti telenovela, saling tuduh antara tersangka yang mantan anggota DPRD Jabar dan eksekutif atau mantan Gubernur Jabar sebagai saksi.
Kenyataan ini ironis bila dibandingkan dengan provinsi lain. Di Sumatera Barat (Sumbar), kasus korupsi anggota DPRD Sumbar sudah tuntas, dan vonis bersalah sudah dijatuhkan, serta kini dalam upaya eksekusi. Yang patut dicatat, sukses Kejaksaan Tinggi Sumbar menyeret anggota DPRD Sumbar bukan semata-mata keringat aparat, melainkan berkat tekanan seluruh elemen masyarakat di Sumbar yang tergabung dalam Forum Peduli Sumatera Barat (FPSB).
Di Jawa Barat, jika aparat hukum menunggu partisipasi masyarakat dalam memberantas korupsi, jangan harap korupsi akan lenyap. Mental elite Sunda cenderung bermental serab, menghargai orang dilihat dari status sosial dan jabatannya. Mental inilah yang menjadi faktor penghambat pemberantasan korupsi di Jabar.
Di lingkungan elite Sunda, orang yang menyandang jabatan struktural di pemerintahan bisa langsung dijungjung lungguh (ditempatkan) sebagai tokoh, seperti di organisasi Paguyuban Pasundan. Mereka yang menjadi dewan pangaping adalah orang-orang yang memiliki jabatan, atau pernah memiliki jabatan, seperti mantan menteri, mantan gubernur, mantan anggota DPR. Adapun orang-orang yang memiliki integritas, seperti Teten Masduki (ICW), Hendardi (PBHI)-walaupun orang Sunda-dilihat sebelah mata.
Dengan mental seperti ini, saya tak heran mengapa banyak elite Sunda terobsesi oleh kemunculan orang Sunda yang menjadi pemimpin nasional. Mental seperti ini jelas merugikan, baik bagi masyarakat Sunda sendiri, maupun bagi orang yang dijungjung lungguhnya.
Bakal tergilas
Jika era demokrasi di Tanah Air berjalan mulus, masyarakat Sunda akan tergilas seandainya elitenya mempertahankan mental serab terhadap orang yang memiliki jabatan struktural di pemerintahan, bukan berdasarkan prestasi dan track record-nya di bidang civil society.
Kerugian pun ada di pihak orang yang dijungjung lungguhnya. Kualitas sang tokoh tak akan terlihat karena biasnya penglihatan orang-orang yang ngajungjung lungguhnya. Misalnya, belum tentu Ali Sadikin jadi gubernur fenomenal seandainya ia jadi Gubernur Jabar saat itu. Dan, tak mustahil Agum Gumelar yang kini ikut jadi kandidat Gubernur DKI mengikuti jejak Ali Sadikin.
Bahaya lainnya, elite Sunda bisa frustrasi karena mengharapkan munculnya pemimpin nasional tanpa melalui proses pengaderan calon- calon pemimpin yang tangguh, baik melalui organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi partai politik. Ini sama saja dengan menunggu kalangkang heulang (sesuatu yang mustahil terlaksana).
Salah satu cara jika elite Sunda ingin menunjukkan kualitasnya, tunjukkan kepedulian untuk ikut menegakkan hukum di Jawa Barat, seperti yang dilakukan masyarakat Minang. Kepedulian inilah yang menjadi ukuran sejauh mana mental dan moral masyarakat Sunda, bukan kepada jumlah orang Sunda yang duduk di DPRD Jabar, atau yang jadi pemimpin nasional.
Dari sikap, komitmen, dan kepedulian ini siapa tahu kelak lahir calon pemimpin yang lahir dari rahim masyarakat. Dengan demikian, semoga mendambakan orang Sunda menjadi calon pemimpin nasional sekaligus berupaya ikut membumihanguskan korupsi tidak lagi sekadar menunggu kalangkang heulang.
Komas Jabar, Sabtu 15 Juli 2006
Thursday, September 6, 2007
| SOROT | |
SEPERTI APA ORANG HEBAT ITU? | Cecep Burdansyah |
| NEGARA boleh porak-poranda diinvasi keangkuhan negara adidaya, tapi semangat untuk jadi pemenang tak boleh padam. Saya kira semua sependapat, semangat kesebelasan Irak untuk jadi pemenang di Piala Asia tak sekadar diumbar melalui kata- kata, baik pemainnya maupun pelatih dan tim manajernya, tapi lewat jerih payah. Hal itu tergambar dari sikap para pemain Irak di setiap pertandingan di Piala Asia 2007. Mereka fokus pada pertandingan. Arab Saudi yang dibilang tak memiliki problem di negaranya tak berdaya menghadapi skill dan semangat pemain Irak. Tim asuhan Jorvan Vieira itu betul-betul menguasai permainan. Padahal tak menutup kemungkinan, siapa tahu jauh di lubuk hatinya mereka sedang prihatin mengingat negaranya yang terus tercabik-cabik akibat konflik bersaudara pasca tumbangnya diktator Saddam Hussein. Bahkan setelah unggul menjadi juara Piala Asia 2007, para pemain memilih balik ke kandang klubnya masing-masing di luar negerinya ketimbang pulang ke negaranya. Tentu saja bukan karena tidak bangga membawa panji kemenangan kepada bangsanya, tapi keamananlah yang mereka pertimbangkan. Hebatnya lagi, pelatih Irak yang asal Brasil itu, Jorvan Vieira, mengaku baru menangani skuad Irak dua bulan lalu. Para pemain Irak pun harus dipanggil dulu dari masing-masing klubnya yang berada di luar Irak. Ternyata kekompakan, semangat teamwork dan skill individu bisa mengatasi berbagai hambatan untuk jadi juara. Tak heran kalau Wapres Jusuf Kalla langsung menyanjung mereka. Menurut Kalla, semalam kita dipertontonkan spirit luar biasa oleh negara yang porak-poranda di mana lapangan bola semua dari pasir dan jarang yang berumput. Tapi mereka bisa juara. Dan jangan salah. Di Piala Asia, banyak tim baik yang berlaga. Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Vietnam, Australia, bahkan kesebelasan kesayangan kita, tim Indonesia, termasuk tim yang baik dalam penampilannya, jauh di banding beberapa tahun lalu. Tetapi Irak sudah melompat lebih jauh. Mereka merasa tidak lagi cukup menjadi tim yang baik, mereka sudah membuktikan diri sebagai tim yang hebat. Irak sudah mereguk momentum yang didengungkan Jim Collins dalam bukunya Good to Great. Untuk menjadi juara di kancah dunia, tim baik tak memenuhi syarat. Tim hebatlah yang layak tampil ke panggung. Sungguh membuat penasaran, kultur apa yang hidup pada bangsa Irak, sehingga mereka mampu menunjukkan sisi hebatnya. Memang menakjubkan, tatkala negaranya habis dibombardir, seorang wartawan foto sempat mengabadikan sekelompok pemuda tengah berlatih sepakbola, padahal di angkasa roket dan rudal berseliweran. Kemenangan Irak di Piala Asia itu juga mengingatkan pada sesosok wanita Irak yang berhasil terpilih untuk mendesain pabrik mobil BMW di Leipzig Jerman, Zaha Hadid. Perempuan kelahiran Baghdad yang kemudian mukim di London itu mengalahkan 25 arsitek pesaingnya untuk mendesain bangunan utama di tanah seluas 40.000 meter persegi. Tim juri internasional sebanyak 11 orang, sudah pasti orang-orang kompeten. Keunggulan Zaha terletak pada kemampuannya menerjemahkan tema bangunan yang diinginkan BMW, yakni keterbukaan. Ia mendesain sebuah ruangan yang fleksibel dan tembus pandang di sepanjang tepian jalur untuk kepentingan administrasi dan komunikasi. Ruangan yang tembus pandang itu membuat para karyawan dan tamu yang datang ke pabrik BMW dapat menyaksikan alur proses produksi mobil yang sedang berlangsung. Itulah orang hebat.Zaha dan kesebelasan sepakbola Irak, tahu segala keterbatasan mereka. Tapi semua keterbatasan itu bukan hambatan untuk jadi pemenang. Kita harus iri pada orang-orang seperti itu. * | |
Subscribe to:
Posts (Atom)